WAHANANEWS.CO, Jakarta -Peta politik menuju Pemilihan Presiden 2029 mulai bergerak dinamis setelah hasil survei terbaru Indonesian Public Institute menempatkan sejumlah nama baru, termasuk Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, dalam bursa kandidat.
Survei Indonesian Public Institute tersebut dilaksanakan pada 30 Januari hingga 5 Februari 2026 dengan melibatkan 1.241 responden berusia 17 hingga 65 tahun yang tersebar di 35 provinsi di Indonesia, Senin (9/2/2026).
Baca Juga:
Isu Retak Dibantah, Jokowi Pastikan Prabowo-Gibran Tetap Bersama
Metode yang digunakan dalam riset ini adalah multistage random sampling, yakni teknik pengambilan sampel bertahap dari unit besar ke unit yang lebih kecil secara acak dan terdistribusi proporsional di seluruh provinsi.
Dengan ukuran sampel tersebut, survei memiliki margin of error sebesar 2,78 persen pada tingkat kepercayaan sekitar 95 persen.
“Berdasarkan hasil survei terbaru kami, sejumlah wajah-wajah baru masuk dalam bursa bakal capres 2029 seperti Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, hingga Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa,” kata Peneliti IPI Abdan Sakura.
Baca Juga:
Partai Gema Bangsa Resmi Dideklarasikan, Tegaskan Dukungan untuk Prabowo di Pilpres 2029
Pernyataan tersebut disampaikan Abdan dalam konferensi pers rilis hasil survei bertajuk Peta Elektabilitas Calon Presiden 2029 yang digelar di kawasan Semanggi, Jakarta.
Sejumlah tokoh baru itu tercatat masuk dalam sepuluh besar kandidat bakal calon presiden 2029 berdasarkan tingkat elektabilitas.
Sjafrie Sjamsoeddin berada di posisi ketujuh dengan elektabilitas 7,5 persen, disusul Purbaya Yudhi Sadewa dengan 4,9 persen dan Sherly Tjoanda sebesar 3,8 persen.
“Elektabilitas Sjafrie Sjamsoeddin bersaing ketat dengan sejumlah tokoh kepala daerah, seperti mantan Gubernur Jakarta Anies Baswedan yang berada di urutan keempat dengan elektabilitas 8,5 persen, lalu Gubernur Jakarta sekarang Pramono Anung di urutan kelima dengan 7,8 persen dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dengan 7,9 persen,” ujar Abdan.
Ia menjelaskan bahwa kemunculan wajah-wajah baru tersebut tidak terlepas dari faktor kepemimpinan, ketokohan, rekam jejak, publikasi media, integritas, serta visi dan program kerja.
Abdan mencontohkan elektabilitas Sjafrie Sjamsoeddin diperkuat oleh indikator kepemimpinan dan ketokohan sebesar 44 persen, rekam jejak kepemimpinan 17 persen, rekomendasi lingkungan dan media 12 persen, serta integritas 10 persen.
“Tokoh-tokoh seperti Pramono Anung, Dedi Mulyadi, dan Syafri Syamsuddin tampil sebagai figur potensial yang memperoleh penilaian kelayakan cukup kuat, meski belum sepenuhnya terkonversi menjadi dukungan elektoral,” ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut membuka ruang dinamika politik baru, terutama jika terjadi krisis politik, perubahan peta koalisi, atau absennya figur pemain utama.
Sementara itu, Abdan menyebut rendahnya elektabilitas sejumlah tokoh populer menegaskan bahwa popularitas semata tidak lagi cukup di tengah pemilih yang semakin rasional dan kontekstual.
Di puncak elektabilitas, Prabowo Subianto masih mendominasi dengan raihan 22,3 persen dan terpaut cukup jauh dari tokoh lainnya.
Gibran Rakabuming Raka menempati posisi kedua dengan elektabilitas 12,2 persen, disusul Ganjar Pranowo di urutan ketiga dengan 9 persen.
“Nama-nama besar masih mendominasi persepsi publik, seperti Prabowo Subianto, Gibran Rakabuming Raka, Ganjar Pranowo, dan Anies Baswedan yang menempati posisi teratas baik dalam penilaian kelayakan maupun elektabilitas,” jelas Abdan.
Namun demikian, ia menambahkan adanya jarak antara tingkat kelayakan yang tinggi dan elektabilitas yang relatif moderat menunjukkan publik belum sepenuhnya menjatuhkan pilihan politiknya.
[Redaktur: Angelita Lumban Gaol]