WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ambisi Indonesia menembus samudra lepas lewat konsep blue water navy bukan sekadar wacana, melainkan pilihan strategis yang menuntut keputusan besar dari TNI Angkatan Laut, apakah memperkuat struktur armada atau melakukan lompatan transformasi teknologi.
Rabu (25/2/2026) -- Kepala Pusat Kajian Maritim Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) Laksamana Pertama Salim mengungkapkan TNI AL dihadapkan pada dua pendekatan utama apabila ingin mengadopsi sistem pertahanan blue water navy secara kredibel dan berkelanjutan.
Baca Juga:
Kapal Induk Hibah Italia Segera Perkuat TNI AL, Anggaran Difokuskan ke Retrofit
Dijelaskannya, blue water navy merupakan konsep kekuatan laut yang memungkinkan angkatan laut beroperasi di samudra terbuka dan perairan dalam secara global sehingga mampu memproyeksikan kekuatan jauh dari wilayah nasional.
"Pendekatan dua ini dapat disesuaikan mana yang sesuai dengan kebutuhan TNI AL," kata Salim dalam diskusi bertajuk Indonesia's Blue Water Transition: Why High-Value ASW/AAW Assets Will Decide Its Credibility yang digelar secara daring.
Menurutnya, pendekatan pertama bersifat struktural dengan menitikberatkan pada penambahan jumlah kapal dan armada tempur laut.
Baca Juga:
Sebelum HUT TNI 2026, Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Ditargetkan Tiba di Indonesia
Untuk strategi ini, penambahan kuantitas kapal dinilai penting guna memperkuat penjagaan wilayah maritim melalui peningkatan intensitas patroli di berbagai titik perairan strategis.
"Lalu fungsi dari memperbanyak jumlah armada Indonesia diharapkan mampu memperluas wilayah operasional dan merespon terhadap ancaman di lautan," jelas Salim.
Dengan jumlah kapal yang lebih besar, kehadiran TNI AL di titik-titik perairan krusial akan semakin mudah diwujudkan sekaligus mempertegas pengamanan batas wilayah laut Indonesia.