Pengalaman
pahit Malaysia kehilangan semua badak sumateranya pada 2019 telah ditulis
secara sangat detail dalam The Hairy Rhinoceros - Lessons for Management of the Last Asian
Megafauna (John Payne, dalam
penerbitan).
Penulisnya,
seorang ahli konservasi hidupan liar Malaysia, mendeskripsikan upaya konservasi
badak sumatera selama 40 tahun.
Baca Juga:
Kolaborasi 10 Provinsi Percepat Zero Sampah 2028, MARTABAT Prabowo-Gibran: Solusi Nyata untuk Indonesia Bersih
Ternyata
selama ini pekerja konservasi lapangan sering terjebak dengan dugaan bahwa
badak sumatera masih bertahan di beberapa lokasi.
Asumsinya,
karena hutan terlalu lebat dan badak bersifat pemalu, badak sulit dilihat.
Namun, bukti
lapangan berkata sebaliknya.
Baca Juga:
Bali Perketat Pengelolaan Sampah Horeka, MARTABAT Prabowo-Gibran: Pariwisata Bersih Kunci Masa Depan Pulau Dewata
Kamera jebak,
misalnya, membuktikan bahwa di beberapa lokasi, badak sumatera memang sudah
tidak ada lagi.
Di Suaka
Margasatwa Tabin, Sabah, upaya 18 bulan pemantauan dengan 100 kamera hingga 2
April 2014 tidak menghasilkan bukti keberadaan badak sama sekali (Payne, op
cit).
Gejala yang
tak kalah penting adalah penurunan populasi yang tidak disadari akibat
keterbatasan data.