Penelitian Colin McDaniel dan tim yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports pada 2025 menyebut saat pikiran mengembara, otak sedang menjalani proses inkubasi bawah sadar yang memungkinkan solusi muncul secara tiba-tiba.
Karena itu, melamun tidak selalu berarti bosan, tetapi bisa menjadi cara otak bekerja lebih efektif dan inovatif.
Baca Juga:
Polisi Ungkap Motif Percobaan Penculikan Lansia di PIK, Dipicu Asmara Tak Direstui
Meski demikian, kondisi ini perlu dibedakan dengan rumination atau mengulang pikiran negatif yang kerap terkait kecemasan dan depresi.
Kedua, memilih kesendirian dibanding terlalu sering bersosialisasi.
Banyak orang menganggap kesendirian sebagai tanda kesepian atau tidak pandai bergaul, padahal studi Norman P. Li dan Satoshi Kanazawa dalam British Journal of Psychology tahun 2016 menunjukkan orang dengan kecerdasan tinggi cenderung lebih puas saat menghabiskan waktu sendiri.
Baca Juga:
Anak Putri Mahkota Norwegia Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Pemerkosaan
Peneliti menyebut konsep itu sebagai savanna theory of happiness.
Teori tersebut menjelaskan bahwa individu cerdas lebih mampu beradaptasi, fokus pada tujuan jangka panjang, dan tidak terlalu bergantung pada interaksi sosial.
Bagi mereka, waktu sendiri adalah ruang produktif untuk refleksi, imajinasi, dan pemecahan masalah secara mendalam.