WahanaNews.co | Saat itu, Selasa (7/9), malam belumlah larut, baru sekitar jam sembilan. Nursin berbincang melalui sambungan telepon video dengan putra pertamanya, Rezkil Khairi (22) yang berada di Blok hunian Chandiri 2 (Blok C2), Lapas Kelas I Tangerang. Sudah 2 tahun Rezkil menghuni Lapas Tangerang.
Ayah dan anak itu berbincang sekitar 30 menit. Tidak ada pembicaraan khusus. Hanya pesan dari anaknya, minta dibelikan pulsa. Rezkil juga sempat mengutarakan rasa rindu pada keluarga. Terlebih adik-adiknya di rumah.
Baca Juga:
574 WBP Rutan Jakpus Dapat Remisi Idul Fitri 1446 H, 12 Orang Langsung Bebas
Dari layar telepon genggam, Nursin melihat ruang tahanan yang dihuni anaknya sangat padat dan ramai. Penghuni ruang tahanan saling bercanda.
"Memang saya lihat di kamar itu ramai, banyak orang tertawa. Memang ramai (ruang tahanan)," ujar Nursin.
Di luar ruang tahanan, Iyan Sofyan mendapat giliran jaga malam. Dia bersama 11 orang petugas Lapas lainnya. Tak ada yang berbeda dari malam sebelumnya. Hingga akhirnya petaka itu datang, Rabu (8/9) dini hari.
Baca Juga:
Usai Razia Narkotika dan Handphone, 300 Napi Rutan Salemba Dipindah
Sekitar pukul 01.50 WIB. Sayup-sayup terdengar suara teriakan. Iyan mengajak beberapa rekannya menghampiri arah suara. Perkiraannya, suara datang dari ruang tahanan Blok C. Tepatnya, Blok hunian Chandiri 2 (Blok C2).
Ruang yang kebanyakan dihuni tahanan kasus narkotika dan obat terlarang. Ada juga kasus terorisme. Blok itu dihuni 122 warga binaan. Mereka tersebar di 19 kamar. Seharusnya, kapasitas idealnya hanya 38 orang.
Bergegas Iyan menuju blok tersebut. Suara teriakan semakin jelas: “Kebakaran!”. Langkah kakinya semakin cepat. Sesampainya di ruang tahanan Blok C, Iyan melihat api sudah membesar. Di dalam, banyak warga binaan terjebak. Meminta pertolongan. Evakuasi harus segera dilakukan.