“Bahkan belakangan ini ada penangkapan di bandar Lampung seorang pria berinisial H. Penindakan juga diduga berkaitan dengan propaganda dan rekrutmen jaringan terror,” ujar Ken.
Baca Juga:
Ken Setiawan Ingatkan Pentingnya Peran Mahasiswa Jaga NKRI dari Radikalisme
Ken menambahkan bahwa paham radikalisme dan terorisme itu seperti virus yang bisa menimpa siapa saja, tdak pandang usis pendidikan dan profesi, semua orang berpontesi terpapar.
Aksi teror saat ini juga tidak semua berlatar belakang agama, ada yang terinpirasi melakukan aksi teror karena bullying, keluarga broken home dan lainnya.
Beberapa kasus rentetan aksi kekerasan ekstrem dan ancaman bom yang terafiliasi dengan True Crime Community (TCC) di sejumlah sekolah Indonesia itu tidak dilandasi oleh motif agama atau jaringan terorisme konvensional, melainkan dipicu oleh luka psikologis mendalam akibat perundungan (bullying).
Baca Juga:
Cegah Radikalisme: Ken Setiawan Usulkan Filsafat Jadi Mata Pelajaran di Sekolah dan Pesantren
TCC bukanlah kelompok agama, melainkan komunitas daring transnasional di media sosial yang mengagumi kasus kriminal nyata, pembunuhan berantai, dan penembakan massal.
Ketika anak-anak yang kondisi psikologisnya sedang rapuh ini mencari pelarian ke ruang digital, mereka terjebak masuk ke dalam grup TCC. Di sana, mereka menemukan lingkungan yang justru memvalidasi kemarahan mereka, memuji aksi kekerasan, dan memberikan "tantangan" (challenges) untuk melakukan aksi nyata.
Alih-alih doktrin keagamaan, anak-anak di komunitas TCC ini justru terpapar oleh paham ekstremisme barat seperti ideologi neo-nazi dan white supremacy. Mereka menggunakan simbol-simbol militer, mengumpulkan senjata rakitan, dan merencanakan serangan murni atas dasar glorifikasi kekerasan dan kebencian sosial.