‘Kalau saya sudah tidak dibutuhkan kalau gitu saya keluar aja,” lanjut Adnan sembari membereskan alat tulis-menulisnya lalu bangkit dari kursi berjalan ke pintu penghubung antara ruang pertemuan dengan ruang kerjanya.
Namun, Adnan batal meninggalkan ruang pertemuan untuk yang pertama karena diajak bicara oleh penasihat hukum penghuni unit, Ahmat Natonis. Akan tetapi, beberapa saat kemudian, setelah kembali saling bicara dengan nada tinggi,untuk kali kedua, sungguhan ia meninggalkan pertemuan ini.
Baca Juga:
Dicuri Segel IMB Pemkot Depok di Perumahan Al Fatih: Atensi Supian Suri Diabaikan Satpol PP
“Ya, saya tidak dipercaya, untuk apa saya di sini. Saya keluar. lanjut saja dengan Pak Refli,” sergah Adnan.
Sikap Adnan ini dinilai tidak bijak oleh Ratu Come.
“Kepala Disrumkim Kota Depok tidak bijak. Tidak mau mendengar aspirasi warga padahal kan sebagai pelayan masyarakat. Ini sih bela pengembang Cinere Apartment Resort dan menolak aspirasi warga yang terzalimi,” gerutu Ratu.
Baca Juga:
LAKRI Kritik Hilangnya Plang Segel Perumahan Al Fatih, Wali Kota Depok: Tegaskan Fungsi Situ Gugur
Demikian pula, beberapa saat kemudian perwakilan PT Apcon, Danang Winata dan Nelly meninggalkan ruangan pertemuan. Polah Danang ini lantaran merasa pribadinya telah disinggung oleh seorang puan pemilik unit.
Puan pemilik unit ini, menggunakan terminologi Islam saat menyampaikan pendapatnyi. Sebelum warga pemohon ini, sudah tidak setuju dengan hanya kehadiran Danang yang hanya seorang manajer yang tak dapat membuat keputusan dan juga isi pembicaraan tidak berbeda dengan sebelumnya.
“Pak Danang kan muslim, kenapa apakah tidak merasakan perbuatan zalim seperti ini. Islam tidak mengajarkan tentang berbuat yang zalim. Kami penghuni dan pemilik unit pak. Bapak adalah kami yang bayar, semestinya Bapak adalah pekerja kami, upahan kami,” ucap puan ini dengan suara tinggi miris.