Lebih lanjut, Indonesia juga menegaskan pentingnya memperluas kerja sama perdagangan ASEAN dengan mitra strategis, termasuk percepatan penyelesaian ASEAN–Canada Free Trade Agreement (ACaFTA) serta optimalisasi Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).
Menurut Budi, respons ASEAN terhadap berbagai tantangan global harus tetap berorientasi pada kepentingan masyarakat. Karena itu, perlindungan terhadap kelompok rentan seperti petani dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perlu menjadi perhatian utama dalam setiap kebijakan kawasan.
Baca Juga:
Kemendag Gandeng Telkom University Perkuat Ekosistem Wirausaha Muda Berorientasi Ekspor
“ASEAN harus mampu membangun solusi jangka panjang yang tidak hanya memperkuat ketahanan kawasan, tetapi juga melindungi masyarakat, khususnya petani dan UMKM, dari dampak krisis global,” ujarnya.
Indonesia juga mendukung pengembangan mekanisme respons krisis kolektif ASEAN yang lebih cepat, fleksibel, dan terintegrasi lintas sektor melalui inisiatif ASEAN Coordinated Response for Enduring Resilience (ASEAN CORE). Mekanisme tersebut diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan ASEAN dalam menghadapi berbagai krisis multidimensi di masa depan.
Dalam pertemuan itu, para menteri turut menerima pandangan dan rekomendasi kebijakan terkait penguatan ketahanan kawasan dari Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) dan ASEAN Business Advisory Council (ASEAN-BAC).
Baca Juga:
Florikultura Indonesia Raup Potensi Transaksi Rp17 Miliar di Pameran Hortikultura Korea Selatan
[Redaktur: Jupriadi]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.