WAHANANEWS.CO, Jakarta - Lebih dari setahun sejak berdiri, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) langsung dihadapkan pada ujian global yang keras, namun tetap agresif menggenjot pertumbuhan ekonomi nasional melalui strategi investasi lintas sektor yang adaptif terhadap dinamika geopolitik.
Di tengah eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel di kawasan Timur Tengah, Danantara menempuh langkah antisipatif dengan mengevaluasi ulang portofolio investasinya guna memastikan imbal hasil tetap optimal di tengah tekanan global.
Baca Juga:
Prabowo: Danantara Punya Peran Strategis Perkuat Ketahanan Ekonomi Nasional
"Tadi pagi kita baru stress-testing kita punya portfolio. Karena memang melihat ketidakpastian di di Timur Tengah memang bukan hanya soal Indonesia saja, tapi semua negara tetangga mengalami hal yang sama," kata Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, dalam acara Outlook Indonesia di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Selasa (7/4/2025).
Langkah stress-testing ini menjadi bagian dari strategi mitigasi risiko mengingat konflik global telah mendorong kenaikan biaya modal serta meningkatkan ketidakpastian investasi baik di tingkat global maupun domestik.
Di sisi lain, Pandu melihat krisis justru membuka peluang baru yang dapat dimanfaatkan secara strategis oleh Danantara untuk memperkuat portofolio investasi nasional.
Baca Juga:
Presiden Dorong Kinerja Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara Makin Optimal
"Saya akan sebut saja sektor-sektor yang orang kita sedang pelajari. Satu di energy security, kedua di sisi downstream hilirisasi yang memang sedang kita lihat sekarang, ketiga juga kita lihat di sisi healthcare, dan keempat di sisi digital infrastructure," lanjutnya.
Keempat sektor tersebut dinilai saling terhubung dan menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan ekonomi nasional berbasis sumber daya dan teknologi.
Menurut Pandu, perkembangan pesat teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), menuntut dukungan energi yang besar sehingga sektor energi menjadi kunci dalam menopang transformasi digital.
"When you talk about artificial intelligence and all the opportunities that will come, ada satu yang sebenarnya menjadi backlog mereka, which is energy. Energy is AI. AI itu membutuhkan energi," ujarnya.
Selain itu, ia menekankan bahwa Indonesia memiliki keunggulan sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung ekosistem AI dan infrastruktur digital secara berkelanjutan.
"Sumber energi yang murah dan juga access to clean water. Salah satu negara yang paling kaya di sini. So how can we utilize penggunaan energi atau kemampuan energi kita untuk bisa mendapatkan sumber dari sisi AI, which is digital infrastructure. Itulah opportunity yang menurut saya sangat menarik," sambung Pandu.
Tak hanya fokus pada kajian sektor strategis, dalam sepekan terakhir Danantara juga mencatat dua kerja sama investasi baru sebagai bagian dari ekspansi portofolio.
Pertama, Danantara menggandeng SMBC Aviation Capital untuk membentuk platform investasi aviation leasing bernama Mandiri Aviation Leasing Fund guna memperkuat kapasitas pembiayaan sektor penerbangan.
"Satu dengan SMBC, merupakan perusahaan terbesar untuk aircraft leasing di dunia. Ini jadi pertama untuk kita lakukan, untuk kita bisa tambah pintar mengenai aviation," ujarnya.
Kedua, Danantara menjalin kesepakatan dengan Qatar Investment Authority untuk mengembangkan investasi di sektor pariwisata melalui pembangunan fasilitas wisata di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.
"Ini pertama kali Qatar perang, tetap siap berinvestasi di Indonesia masuk ke Labuan Bajo," kata Pandu.
Langkah ini menunjukkan bahwa di tengah ketidakpastian global, Indonesia tetap dipandang sebagai destinasi investasi yang menjanjikan dengan potensi pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]