Menurut Simon, optimalisasi operasional seperti peningkatan utilisasi kilang menjadi salah satu upaya untuk mendorong efisiensi perusahaan. Pertamina menargetkan peningkatan volume penjualan produk energi berkualitas tinggi bagi konsumen dalam negeri.
"Di tengah gejolak global yang semakin kompleks, peran Pertamina sebagai Soko Guru Energi atau penopang ketahanan energi nasional menjadi semakin penting. Eksistensi Pertamina di tahun 2026 bukan hanya tentang pertumbuhan. Ini tentang ketahanan, keandalan, dan kedaulatan energi nasional, karena itu Pertamina tidak bisa bekerja biasa-biasa saja," tegas dia.
Baca Juga:
Dua Jet Tempur AS Dijatuhkan Iran, Teknologi Senyap EO/IR Bongkar Celah Pertahanan Modern
Komisaris Utama Pertamina, Mochamad Iriawan, menambahkan bahwa ketahanan energi tetap menjadi prioritas utama bagi dewan komisaris. Dalam jangka pendek, perusahaan berkomitmen penuh untuk menjamin pasokan energi tetap aman bagi masyarakat.
"Kondisi yang saat ini terjadi bukan situasi normal. Ini 'stress test' bagi Pertamina, sehingga respon Pertamina tidak boleh biasa-biasa saja. Pertamina harus bekerja over-maksimal," tutupnya.
Di samping ketahanan energi, Pertamina juga tetap konsisten mendukung target Net Zero Emission 2060 melalui program transisi energi. Perusahaan terus mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam seluruh rantai bisnisnya sebagai bagian dari transformasi yang berorientasi pada tata kelola dan keberlanjutan usaha, melalui koordinasi dengan Danantara Indonesia.
Baca Juga:
Mentan Sebut Konflik Global Jadi Berkah, Petani Indonesia “Pesta”
[Redaktur: Alpredo Gultom]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.