WahanaNews.co | Tingginya harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat berdampak pada pelaku usaha di Indonesia.
Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira melihat pelaku usaha di dalam negeri sudah mulai menerima efek domino karena pasar ekspor beranjak lesu.
Baca Juga:
Luhut: Impor Minyak dari Rusia? Kenapa Tidak, jika Menguntungkan!
"Banyak pelaku usaha (ekspor) mulai terdampak dan bersiap mengurangi kapasitas produksi serta pembelian bahan baku," tuturnya kepada Tempo, Ahad, 24 Juli 2022.
Harga BBM di Amerika melejit seiring dengan ledakan inflasi di negara tersebut. Di Arizona, misalnya, harga BBM meningkat dua kali lipat dari semula di bawah US$ 3 per galon menjadi US$ 5-6 per galon.
Bhima menjelaskan inflasi yang terlalu tinggi dan persisten di Amerika berpotensi mempengaruhi kebijakan negara-negara maju untuk menaikkan suku bunga. Di Amerika pun, The Fed membuka peluang menaikkan tingkat suku bunga acuan sampai 75 basis poin.
Baca Juga:
Ketegangan Israel-Iran Picu Kenaikan Harga Minyak Hingga 4%
Situasi ini diperkirakan bakal memicu eksodus modal asing dan melemahkan kurs rupiah. Pasar ekspor ke Amerika juga menjadi kurang menarik, meski porsinya hanya 13 persen dari total ekspor Indonesia.
Adapun menurut Bima, krisis di Amerika terjadi karena harga crude oil mengalami kenaikan yang signifikan akibat perang di Ukraina.
Beberapa kontrak pembelian minyak mentah dari Rusia terpaksa diputus pada waktu yang sama. Sementara itu banyak pelaku industri BBM di Amerika tidak siap dengan situasi geopolitik ini sehingga pasokan berkurang.