Selain pasar obligasi Amerika Serikat, investor juga menghadapi pergerakan harga minyak dunia yang mengalami kenaikan signifikan.
Harga minyak Brent ditutup menguat 1,2 persen hingga mendekati US$88 per barel pada perdagangan Jumat (31/7/2026).
Baca Juga:
Dari Sell Indonesia ke Sell Singapore, Ini Makna di Balik Istilah yang Bikin Warganet Panas
Kenaikan tersebut membuat harga Brent membukukan lonjakan hampir 24 persen sepanjang Juli 2026.
Phintraco Sekuritas menyebut kenaikan bulanan tersebut menjadi yang tertinggi sejak Maret dengan eskalasi geopolitik dan meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan minyak global sebagai faktor pendorong.
Investor pada pekan ini diperkirakan mencermati perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran karena berpotensi memengaruhi volatilitas harga minyak mentah.
Baca Juga:
IHSG Terkapar, Investor Asing Lepas Saham Rp23 Triliun
Gejolak harga energi juga menjadi perhatian karena dapat memberikan tekanan terhadap prospek inflasi global.
Selain faktor geopolitik, pergerakan pasar saham global akan dipengaruhi volatilitas saham-saham yang berkaitan dengan Artificial Intelligence (AI).
Perhatian pelaku pasar antara lain tertuju pada rilis kinerja keuangan SpaceX dan AMD yang dijadwalkan berlangsung pada pekan ini.