Pemerintah saat ini juga mengarahkan pengembangan KEK menuju hilirisasi industri, advanced manufacturing, ekonomi digital, layanan kesehatan internasional, hingga ekosistem energi hijau.
Salah satu pengembangan hilirisasi berlangsung di KEK Galang Batang yang mengintegrasikan produksi bauksit, smelter grade alumina hingga aluminium ingot.
Baca Juga:
Pemerintah Buka Akses Produsen Lokal di KEK, MARTABAT Prabowo-Gibran: Industri Nasional Jangan Jadi Penonton
Sementara itu, pengembangan ekonomi digital dilakukan melalui pusat data, kecerdasan buatan dan konektivitas internasional, termasuk kabel bawah laut Nongsa–Changi Cable sepanjang 50 kilometer.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa pengembangan KEK harus mempunyai hubungan ekonomi yang kuat dengan kota dan kabupaten di sekeliling kawasan.
“Jangan sampai KEK tumbuh sangat cepat tetapi wilayah di sekitarnya hanya menjadi penonton, karena keberhasilan kawasan seharusnya ikut menggerakkan UMKM, tenaga kerja, permukiman, transportasi, dan pusat ekonomi baru,” ujar Tohom.
Baca Juga:
Investasi Kumulatif KEK Capai Rp368 Triliun, MARTABAT Prabowo-Gibran: Indonesia Makin Kompetitif di Mata Investor
Menurutnya, konsep aglomerasi menjadi semakin penting karena investasi berskala besar akan menciptakan kebutuhan baru terhadap infrastruktur, energi, logistik, hunian dan berbagai layanan publik.
“Kalau dirancang dengan benar, satu investasi besar di KEK bisa menciptakan efek berantai yang jauh lebih besar daripada nilai investasi awalnya,” katanya.
Di KEK Gresik, rencana investasi senilai US$600 juta disiapkan PT GEABH Joint Technology untuk pembangunan pabrik melamin berkapasitas 120.000 ton per tahun.