Sementara PT Evyap Sabun Indonesia di KEK Sei Mangkei telah merealisasikan investasi US$130 juta untuk sektor hilirisasi kelapa sawit.
KEK Kendal juga memulai pembangunan pabrik PT Hoi Fu senilai Rp1,12 triliun yang berpotensi menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja.
Baca Juga:
Pemerintah Buka Akses Produsen Lokal di KEK, MARTABAT Prabowo-Gibran: Industri Nasional Jangan Jadi Penonton
Tohom menilai perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa persaingan antarnegara ke depan bukan hanya memperebutkan modal, tetapi juga memperebutkan industri, teknologi dan rantai pasok global.
“Indonesia harus berani naik kelas dari tempat investasi menjadi pusat produksi, pusat teknologi, dan bagian penting dari rantai pasok dunia,” ujarnya.
Ia juga mendukung langkah pemerintah yang mulai mengarahkan evaluasi KEK berdasarkan dampak ekonomi, bukan hanya besarnya nilai investasi yang berhasil dihimpun.
Baca Juga:
Investasi Kumulatif KEK Capai Rp368 Triliun, MARTABAT Prabowo-Gibran: Indonesia Makin Kompetitif di Mata Investor
“Investasi Rp100 triliun belum tentu lebih bernilai bagi bangsa dibanding investasi Rp50 triliun apabila yang Rp50 triliun menghasilkan lapangan kerja lebih besar, ekspor lebih tinggi, transfer teknologi, dan tumbuhnya industri lokal,” kata Tohom.
Menurutnya, indikator keberhasilan KEK harus semakin terukur melalui penciptaan pekerjaan, nilai ekspor, produktivitas, keterlibatan UMKM, penggunaan produk dalam negeri serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“MARTABAT Prabowo-Gibran berharap KEK menjadi salah satu mesin besar transformasi ekonomi Indonesia, karena investasi yang terbaik adalah investasi yang membuat negara semakin kuat dan rakyat semakin sejahtera,” pungkas Tohom.