Dengan skala dan karakteristik proyek yang berbeda-beda, proses percepatan membutuhkan koordinasi serta sinergi yang kuat sejak tahap perencanaan, persiapan, pembiayaan, konstruksi, hingga pengoperasian.
Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan (EBT) PLN, Suroso Isnandar, mengatakan keterlibatan berbagai pihak menjadi faktor penting untuk mempercepat pemanfaatan energi air.
Baca Juga:
PLN Gerak Cepat Pulihkan Listrik Flores Pascagempa M7,7, 11 Gardu Induk Kembali Normal
Menurutnya, hydropower memiliki posisi strategis karena dapat menjadi salah satu penopang ketahanan energi sekaligus mendukung agenda transisi energi Indonesia.
Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan (EBT) PLN, Suroso Isnandar, pada agenda Indonesia Hydropower Summit 2026 yang diselenggarakan di PLN Kantor Pusat, Jakarta, menyampaikan bahwa kolaborasi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci percepatan pengembangan hydropower sebagai salah satu pilar ketahanan dan transisi energi Indonesia. Hingga Juli 2026, sekitar 9,2 GW proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) telah memasuki berbagai tahapan eksekusi, atau sekitar 79 persen dari total 11,7 GW kapasitas yang direncanakan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
"PLN tidak sendirian dalam menjalankan amanah ini. Kolaborasi adalah kunci untuk bisa menyukseskan program ini. Pemerintah, PLN, IPP, dan termasuk lembaga lain, termasuk Masyarakat Energi Baru Terbarukan (METI), kita memerlukan sinergi yang kuat, komitmen yang kuat, dan kontribusi yang aktif dari seluruh pemangku kepentingan," ujar Suroso pada agenda Indonesia Hydropower Summit 2026, di PLN Kantor Pusat, Jakarta.
Baca Juga:
Dari Budidaya Kepiting hingga Pelatihan Kerja, Ini Dampak Program TJSL PLN bagi Masyarakat
Selain mengembangkan PLTA dan PLTM, PLN juga menyiapkan pembangkit hidro dengan teknologi pumped storage. Dalam RUPTL 2025-2034, kapasitas pumped storage yang direncanakan mencapai sekitar 4,3 GW.
Pumped storage memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan sistem kelistrikan.
Teknologi ini bekerja dengan menyimpan energi ketika pasokan listrik tersedia dalam jumlah besar, kemudian menggunakan kembali energi tersebut ketika permintaan listrik meningkat.