Anthony juga menyoroti cadangan devisa yang dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan ekonomi riil.
“Cadangan devisa Indonesia besar dalam angka, tetapi terisi gelembung akumulasi utang luar negeri, terutama oleh pemerintah dan Bank Indonesia,” tukasnya.
Baca Juga:
Pacific Partnership 2026 Sasar Tapanuli Tengah, US Navy dan TNI AL Bangun Fasilitas Pendidikan
Ia menambahkan bahwa utang luar negeri tersebut lebih banyak digunakan untuk menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi, bukan untuk kegiatan produktif.
Dalam praktiknya, stabilitas nilai tukar rupiah sangat bergantung pada masuknya dana asing ke pasar keuangan domestik.
Ketika arus modal melambat atau keluar, tekanan terhadap rupiah akan meningkat secara signifikan.
Baca Juga:
DPD KAI NTB Dilantik, Lalu Anton Hariawan Tegaskan Kolaborasi Penegakan Hukum
Dalam satu dekade terakhir, pola ini terus berulang dalam berbagai periode krisis.
Pada 2014-2015, cadangan devisa turun sekitar 9,44 miliar dollar AS dan rupiah melemah sekitar 20 persen dari Rp12.185 menjadi Rp14.650 per dollar AS.
Pemerintah saat itu merespons dengan menerbitkan obligasi internasional senilai 6,85 miliar dollar AS untuk menahan tekanan.