Ia mengingatkan pengalaman krisis moneter 1997 sebagai pelajaran penting.
“Sejarah menunjukkan kejatuhan rupiah sebesar 25-30 persen pada triwulan ketiga 1997 membuat pemerintah meminta bantuan likuiditas kepada IMF,” lanjutnya.
Baca Juga:
Kenapa Perjalanan Pulang Terasa Lebih Cepat? Ini Jawaban Ilmiahnya
Ia menambahkan bahwa keterlambatan respons saat itu membuat krisis semakin membesar.
“Rupiah tergelincir seperti bola salju yang tidak terkendali,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah menyampaikan pandangan berbeda terkait kondisi rupiah saat ini.
Baca Juga:
Ford Tinggalkan Medan Perang, Dukungan AS ke Israel Dipertanyakan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah masih dalam batas wajar.
“Ada yang bilang rupiah hancur, tapi kalau kita lihat betul, Pak, itu sejak perang, rupiah itu hanya terdepresiasi sebesar 0,3 persen,” ujarnya.
Ia menilai indikator risiko tetap stabil dan menunjukkan kepercayaan investor asing masih terjaga.