Tekanan serupa kembali terjadi pada 2018 ketika cadangan devisa menyusut 17,13 miliar dollar AS dan rupiah melemah hingga Rp15.202 per dollar AS.
Pada awal pandemi Covid-19 tahun 2020, tekanan bahkan lebih tajam dengan penurunan devisa 10,7 miliar dollar AS dalam satu bulan dan rupiah anjlok hingga Rp16.575 per dollar AS.
Baca Juga:
Pacific Partnership 2026 Sasar Tapanuli Tengah, US Navy dan TNI AL Bangun Fasilitas Pendidikan
Memasuki 2026, tekanan kembali terlihat dengan cadangan devisa turun 4,6 miliar dollar AS dalam dua bulan pertama.
Hal ini terjadi meskipun pemerintah telah menarik utang luar negeri sebesar 7,1 miliar dollar AS.
Kondisi tersebut dinilai mempersempit ruang intervensi pemerintah dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Baca Juga:
DPD KAI NTB Dilantik, Lalu Anton Hariawan Tegaskan Kolaborasi Penegakan Hukum
Anthony memperkirakan pelemahan rupiah 15 hingga 20 persen masih dalam batas realistis.
Dengan posisi saat ini sekitar Rp17.000 per dollar AS, depresiasi tersebut dapat membawa rupiah ke kisaran Rp20.400.
Dalam skenario geopolitik yang lebih buruk, pelemahan itu bahkan bisa terjadi dalam waktu tiga hingga enam bulan.