Pada sektor industri, impor bahan baku juga masih mendominasi aktivitas produksi nasional. Besi dan baja tercatat sebesar 1,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp23 triliun per bulan. Kemudian plastik dan karet rekayasa mencapai 1,5 miliar dolar AS, sementara bahan kimia dan farmasi mencapai 2,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp49 triliun.
Menurut Arnod Sihite, yang juga merupakan mahasiswa Program Magister Ilmu Politik di Universitas Nasional itu. Tingginya ketergantungan terhadap impor membuat industri nasional rentan terpukul ketika rupiah mengalami pelemahan. Perusahaan harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli bahan baku dan barang modal dari luar negeri.
Baca Juga:
Kemendag Sosialisasikan Permendag Nomor 18 Tahun 2026 untuk Perkuat Tata Kelola Impor
“Kalau kondisi ini terus dibiarkan, industri dalam negeri akan sulit bersaing. Ujungnya bisa berdampak pada produksi, harga barang, bahkan ancaman terhadap lapangan kerja,” ujarnya.
Ia menilai pemerintah perlu memperkuat produksi nasional agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor kebutuhan strategis. Menurutnya, sektor pangan, energi dan manufaktur harus menjadi prioritas penguatan ekonomi nasional.
“Indonesia memiliki sumber daya alam dan tenaga kerja yang besar. Yang diperlukan sekarang adalah keberpihakan serius terhadap produksi dalam negeri, hilirisasi industri, serta penguatan sektor pertanian dan energi nasional,” tegas Arnod.
Baca Juga:
BPS Catat Indonesia Impor Emas 2,5 Ton April 2026, dari Hongkong-Australia dan UEA
Arnod juga mendorong percepatan pembangunan kilang minyak, pengembangan energi alternatif, serta peningkatan kapasitas industri elektronik, baja, petrokimia dan mesin produksi domestik.
Selain itu, penggunaan produk dalam negeri dan peningkatan investasi pada sektor produksi dinilai menjadi langkah penting untuk memperkuat daya saing industri nasional di tengah tekanan global.
“Pelemahan rupiah saat ini menjadi alarm bahwa ketahanan ekonomi Indonesia belum sepenuhnya kuat. Selama kebutuhan strategis masih bergantung pada impor, gejolak ekonomi global akan terus memberi tekanan pada perekonomian nasional,” pungkasnya.