Kondisi tersebut berlangsung ketika jumlah lulusan baru yang dihasilkan perguruan tinggi terus bertambah dan memasuki pasar tenaga kerja setiap tahunnya.
"Pertumbuhan lapangan kerja formal belum sebanding dengan jumlah lulusan baru," ujar Anwar.
Baca Juga:
Investasi Naik Rp486 Triliun, DPR Soroti Minimnya Serapan Tenaga Kerja di Indonesia
Persaingan mendapatkan pekerjaan semakin ketat karena pertumbuhan kesempatan kerja formal belum mampu mengimbangi banyaknya tenaga kerja baru berpendidikan tinggi.
"Ditambah preferensi lulusan yang cenderung menunggu pekerjaan formal tertentu," kata Anwar.
Pilihan sebagian lulusan untuk menunggu jenis pekerjaan tertentu turut membuat proses penyerapan tenaga kerja berpendidikan tinggi membutuhkan waktu lebih panjang.
Baca Juga:
Tekan Pengangguran, Cirebon Gencar Bentuk BKK di Lingkup Pendidikan
Kemnaker juga menyoroti perkembangan teknologi dan transformasi industri yang berlangsung cepat tetapi belum sepenuhnya mampu diikuti sistem pendidikan dan pelatihan tenaga kerja di Indonesia.
Kesenjangan tersebut menyebabkan sebagian lulusan perguruan tinggi belum memiliki kemampuan yang benar-benar sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan terbaru di pasar tenaga kerja.
Kepala Biro Humas Kemnaker Faried Abdurrahman Nur Yuliono menambahkan keterbatasan pengalaman kerja juga menjadi salah satu persoalan yang memengaruhi kemampuan lulusan untuk masuk ke dunia kerja.