Selain pengalaman kerja, penguasaan soft skills dan kepemilikan sertifikasi kompetensi menjadi faktor lain yang turut menentukan tingkat penyerapan tenaga kerja berpendidikan tinggi.
"Sektor yang paling merasakan tantangan ini adalah sektor industri padat teknologi," kata Faried.
Baca Juga:
Investasi Naik Rp486 Triliun, DPR Soroti Minimnya Serapan Tenaga Kerja di Indonesia
Industri berbasis teknologi membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan yang semakin spesifik sehingga pendidikan formal saja tidak selalu cukup untuk memenuhi kualifikasi perusahaan.
"Di beberapa kawasan industri, seperti di Batam misalnya, investasi yang masuk membutuhkan kualifikasi yang sangat spesifik," ujar Faried.
Kondisi tersebut menunjukkan masuknya investasi dan berkembangnya kawasan industri tidak secara otomatis mampu menyerap seluruh lulusan perguruan tinggi apabila kompetensi tenaga kerja tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Baca Juga:
Tekan Pengangguran, Cirebon Gencar Bentuk BKK di Lingkup Pendidikan
Kemnaker terus melakukan sejumlah upaya untuk memperkecil mismatch antara kompetensi yang dimiliki lulusan pendidikan dan kebutuhan nyata dunia industri.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah mendorong penyelarasan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri agar kompetensi lulusan lebih relevan ketika memasuki pasar tenaga kerja.
Pemerintah juga mendorong keterlibatan industri secara lebih besar dalam proses pembelajaran sehingga peserta didik dapat memahami kompetensi yang benar-benar dibutuhkan ketika bekerja.