“Perkembangan semalam menunjukkan bahwa situasi di Selat Hormuz tetap sangat tidak stabil,” ungkap MarineTraffic.
Dalam rapat kabinet, Trump juga mengklaim Iran telah mengizinkan 10 kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz sebagai bentuk “hadiah” bagi Amerika Serikat.
Baca Juga:
Harga Minyak Dunia US$150/Barel: Menkeu Purbaya Sebut Trump Sudah Jatuh, Bukan RI
Meski demikian, pasar tetap berhati-hati karena ketegangan antara Washington dan Teheran masih menjadi faktor utama yang memicu volatilitas harga energi.
Sinyal adanya kapal tanker yang berhasil melintas memang memberikan sedikit harapan bagi pasar dalam jangka pendek.
Namun para analis menilai kondisi fundamental pasar minyak global saat ini jauh lebih rapuh dibanding sebelumnya.
Baca Juga:
BBM RI Masih Aman Saat Dunia Bergejolak, Negara Tetangga Sudah Naik
“Pasar minyak tidak bereaksi secara berlebihan terhadap gangguan di Selat Hormuz, justru pasar menyerapnya,” ujar Kepala Analis Minyak Rystad Energy, Paola Rodriguez-Masiu.
Ia menjelaskan bahwa selama beberapa pekan terakhir pasar masih mampu bertahan karena adanya cadangan pasokan sebelum konflik.
“Selama hampir empat minggu, pasar telah menunjukkan ketahanan yang luar biasa, didukung oleh kombinasi surplus pra-perang, minyak mentah yang masih dalam perjalanan, dan pasokan minyak berdasarkan kebijakan yang memberikan penyangga sementara dan menjaga harga tetap terkendali. Fase itu sekarang berakhir,” imbuhnya.