“Perkembangan semalam menunjukkan bahwa situasi di Selat Hormuz tetap sangat tidak stabil,” ungkap MarineTraffic.
Dalam rapat kabinet, Trump juga mengklaim Iran telah mengizinkan 10 kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz sebagai bentuk “hadiah” bagi Amerika Serikat.
Baca Juga:
Negara Ini Paling Murah Jual BBM Sedunia Sekitar Rp400/Liter!
Meski demikian, pasar tetap berhati-hati karena ketegangan antara Washington dan Teheran masih menjadi faktor utama yang memicu volatilitas harga energi.
Sinyal adanya kapal tanker yang berhasil melintas memang memberikan sedikit harapan bagi pasar dalam jangka pendek.
Namun para analis menilai kondisi fundamental pasar minyak global saat ini jauh lebih rapuh dibanding sebelumnya.
Baca Juga:
Rusia Tuduh AS Kejar Minyak di Balik Intervensi Venezuela dan Iran
“Pasar minyak tidak bereaksi secara berlebihan terhadap gangguan di Selat Hormuz, justru pasar menyerapnya,” ujar Kepala Analis Minyak Rystad Energy, Paola Rodriguez-Masiu.
Ia menjelaskan bahwa selama beberapa pekan terakhir pasar masih mampu bertahan karena adanya cadangan pasokan sebelum konflik.
“Selama hampir empat minggu, pasar telah menunjukkan ketahanan yang luar biasa, didukung oleh kombinasi surplus pra-perang, minyak mentah yang masih dalam perjalanan, dan pasokan minyak berdasarkan kebijakan yang memberikan penyangga sementara dan menjaga harga tetap terkendali. Fase itu sekarang berakhir,” imbuhnya.