Selain soal transparansi, YLKI menilai kenaikan harga Pertamax harus dibarengi peningkatan kualitas layanan kepada konsumen.
Rio mendesak Pertamina menjamin kualitas BBM, kemudahan akses, keandalan distribusi, akurasi takaran, dan pelayanan yang lebih baik.
Baca Juga:
Listrik Sumatera Utara Kembali Normal, 735 Ribu Pelanggan Terdampak Kini Terlayani 24 Jam
Menurutnya, konsumen tidak boleh hanya menjadi pihak yang menanggung beban kenaikan harga tanpa memperoleh manfaat tambahan.
“Konsumen tidak boleh hanya diminta menerima kenaikan harga tanpa memperoleh peningkatan manfaat dan kualitas layanan yang sepadan,” ungkap Rio.
YLKI juga meminta pemerintah mewaspadai kemungkinan migrasi konsumsi dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi.
Baca Juga:
Jelang Galungan dan Kuningan, PLN UID Bali Perkuat Edukasi Keselamatan Listrik untuk Warga
Rio khawatir selisih harga Pertamax dan Pertalite yang mencapai Rp6.250 per liter dapat memicu lonjakan permintaan Pertalite.
Lonjakan permintaan BBM bersubsidi dinilai berpotensi menimbulkan antrean panjang, pembatasan distribusi, hingga kelangkaan BBM.
“Jangan sampai masyarakat yang memang berhak memperoleh BBM subsidi justru menjadi pihak yang paling dirugikan,” kata Rio.