Dia sangat mengkhawatirkan keluarganya, terutama anak-anaknya yang masih kecil, yang kerap ketakutan ketika mendengar suara keras.
"Kesehatan mental mereka sangat terpengaruh, dan suara keras masih membuat kedua anak saya yang lebih kecil menangis," ungkapnya.
Baca Juga:
Bantuan Kemanusiaan Mengalir, UNICEF dan WFP Soroti Ancaman Serius bagi Anak Gaza
Termasuk juga ibunya yang mengalami gangguan syaraf pasca serangan 11 hari.
Ibunya kini menjalani perawatan di spesialis kesehatan mental.
"Ibuku masih tidak bisa membicarakannya tanpa mengalami serangan panik,” kata Ahmad.
Baca Juga:
Penyeberangan Rafah Dibuka Pekan Depan, Harapan Baru bagi Warga Gaza
Satu hal yang paling menyakitkan baginya, dia juga harus kehilanga pekerjaanya.
Dia tidak lagi dapat bekerja sebagai pengemudi sejak tangannya harus diamputasi.
"Saya tidak dapat mengemudi tanpa tangan saya. Saya bertanggung jawab tidak hanya untuk istri dan anak-anak saya tetapi juga untuk orang tua saya yang sudah lanjut usia," kata dia.