WAHANANEWS.CO, Jakarta - Sebuah studi terbaru dari ilmuwan China mengungkap celah serius dalam sistem pertahanan rudal Amerika Serikat yang dinilai kesulitan menghadapi ancaman senjata hipersonik modern.
Penelitian tersebut dipimpin oleh Liao Longwen dari Northwest Institute of Nuclear Technology dan dipublikasikan dalam jurnal Tactical Missile Technology.
Baca Juga:
AS Bakar Rp1.245 Triliun untuk Senjata Nuklir, Angkanya Kalahkan Gabungan 8 Negara
Hasil studi itu menyimpulkan sistem pertahanan udara Amerika Serikat saat ini dinilai tidak sebanding dengan ancaman rudal hipersonik yang memiliki kecepatan ekstrem serta kemampuan manuver tinggi.
“Sistem pertahanan rudal AS yang ada secara teoritis dapat mencegat beberapa senjata hipersonik pada tahap akhirnya, tetapi kecepatan tinggi, kemampuan manuver, dan kemampuan siluman membuatnya sangat sulit,” tulis Liao dan rekan-rekannya.
Tim peneliti menganalisis berbagai lapisan sistem pertahanan rudal milik Amerika Serikat mulai dari fase tengah hingga fase terminal untuk menemukan titik lemahnya.
Baca Juga:
Ketegangan Memuncak, AS dan Iran Saling Klaim soal Status Selat Hormuz
Penelitian tersebut menunjukkan sejumlah sistem pertahanan utama Amerika Serikat memiliki keterbatasan ketika menghadapi rudal yang bergerak dengan karakteristik hipersonik.
Sistem Aegis dengan pencegat SM-3 yang dirancang untuk mencegat rudal di luar atmosfer pada ketinggian lebih dari 100 kilometer disebut memiliki kelemahan terhadap rudal hipersonik.
“Panas ekstrem yang dihasilkan rudal hipersonik saat menembus atmosfer dapat membutakan sensor inframerah pencegat,” tulis tim peneliti dalam studi tersebut.