Sementara itu sistem Terminal High Altitude Area Defense atau THAAD yang beroperasi pada ketinggian antara 40 hingga 150 kilometer dinilai kesulitan menghadapi rudal yang meluncur pada ketinggian rendah.
Pada ketinggian tertentu sistem ini juga dinilai rentan terkecoh oleh penggunaan umpan oleh rudal lawan.
Baca Juga:
Trump Buka Peluang Negosiasi dengan Iran di Tengah Perang, Tapi Ada Syaratnya
Sistem Patriot PAC-3 MSE yang dirancang sebagai pertahanan jarak dekat juga memiliki keterbatasan waktu reaksi terhadap rudal yang menukik dengan sangat cepat.
“Untuk mencegat rudal yang menukik tajam, pencegat membutuhkan percepatan dua hingga tiga kali lipat dari target,” tulis para peneliti menjelaskan keterbatasan sistem tersebut.
Kondisi tersebut menjadi sangat sulit dicapai jika rudal lawan melaju dengan kecepatan lebih dari Mach 6.
Baca Juga:
Minyak Tembus 119 Dolar per Barel, AS Pertimbangkan Cabut Sanksi demi Redam Harga
Temuan penelitian ini kemudian dianggap sejalan dengan sejumlah rekaman serangan dalam konflik terbaru di Timur Tengah.
Rekaman tersebut menunjukkan rudal Iran mampu menembus sistem pertahanan udara Israel dan Amerika Serikat di sekitar Tel Aviv sebelum menghantam sejumlah target militer bernilai tinggi.
Korps Garda Revolusi Islam Iran mengklaim rudal hipersonik dan drone tempurnya berhasil menembus sistem pertahanan THAAD buatan Amerika Serikat dalam Operasi True Promise 4, Kamis (5/3/2026).