London tercatat menggelontorkan dana sebesar US$12,6 miliar atau sekitar Rp226,8 triliun.
Sementara itu, Rusia berada di bawah Inggris dengan pengeluaran nuklir sebesar US$9,5 miliar atau sekitar Rp171 triliun.
Baca Juga:
Pelita Air Bakal Masuk Garuda Group, MARTABAT Prabowo-Gibran: Konsolidasi Harus Tingkatkan Pelayanan
Data tersebut memperlihatkan persaingan nuklir global tidak lagi hanya didominasi Amerika Serikat, Rusia, dan China.
Inggris kini ikut menjadi sorotan karena anggaran nuklirnya meningkat di tengah ketegangan keamanan Eropa.
Lembaga FRA dan ICAC menilai belanja nuklir global sebagai pemborosan besar di tengah berbagai krisis kemanusiaan.
Baca Juga:
KAI Kecam Ucapan Kasar Advokat ke Wartawan, Kak Mia: Officium Nobile Wajib Jaga Etika
Pengeluaran nuklir dunia untuk satu hari pada tahun lalu disebut cukup untuk menyediakan bahan pangan bagi dua juta orang selama satu tahun penuh.
Total belanja nuklir tahunan juga diklaim mampu membiayai operasional rutin Perserikatan Bangsa-Bangsa selama 32 tahun.
Laporan pembengkakan dana nuklir ini muncul bersamaan dengan rencana strategis Pentagon untuk menyebarkan senjata nuklir Amerika Serikat ke lebih banyak negara anggota NATO di Eropa.