Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian melakukan kunjungan luar negeri pertamanya sejak perang pecah. Pezeshkian menyambangi Islamabad untuk melakukan pertemuan bilateral bersama Presiden Pakistan, Asif Ali Zardari.
Dalam pertemuan resmi tersebut, kedua pemimpin membahas berbagai isu strategis regional. Fokus utama pembicaraan mereka adalah mengenai perdamaian wilayah serta penguatan kerja sama ekonomi nasional.
Baca Juga:
Krisis Listrik Mengintai Jepang, Bangun 14 Pembangkit Nuklir Baru
Pezeshkian juga menegaskan bahwa nota kesepahaman antara AS dan Iran sama sekali tidak membatasi kekuatan militer mereka. Draf perdamaian itu diklaim tidak menyentuh program pengembangan rudal balistik milik Teheran.
"Jika bukan karena kemampuan rudal Iran, negara kami pasti sudah dijarah dan dihancurkan. Kami tidak akan pernah berkompromi atau menegosiasikan kemampuan rudal kami," tegas Pezeshkian dalam konferensi pers setelah pertemuan tersebut.
Merespons kerja sama ini, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif memberikan pernyataan simpatik. Sharif berkomitmen untuk memberikan penghormatan terakhir secara langsung kepada pemimpin Iran.
Baca Juga:
Bikin Trump Marah, Kepala Intelijen AS Mundur
Sharif mengonfirmasi bahwa dirinya akan menghadiri upacara pemakaman Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei di Teheran. Pemimpin spiritual Iran tersebut tewas akibat serangan udara di awal perang.
Klaim Iran soal Perdamaian
Dari meja perundingan di Swiss, perwakilan Iran menyatakan bahwa pembicaraan dengan delegasi AS berjalan dinamis. Dialog tersebut telah menghasilkan pembentukan kelompok kerja khusus untuk draf perdamaian permanen.