Kelompok ini akan berfokus pada mekanisme pemulihan sanksi serta pengawasan jalur kapal di Selat Hormuz. Kedua negara juga sepakat membentuk sel dekonflik untuk meredam pertempuran di Lebanon Selatan.
Kendati demikian, situasi di lapangan masih sangat rawan memicu perang terbuka kembali. Pasukan Israel dilaporkan baru saja menembak mati dua orang di wilayah Lebanon Selatan.
Baca Juga:
Krisis Listrik Mengintai Jepang, Bangun 14 Pembangkit Nuklir Baru
Peristiwa maut ini langsung memecah masa tenang yang sempat bertahan selama dua hari. Insiden ini berpotensi merusak draf kesepakatan komprehensif yang menuntut gencatan senjata penuh di Lebanon.
Netanyahu Masih Menggila di Lebanon
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan posisi militer negaranya yang tidak terikat dengan kesepakatan luar tersebut. Hal ini karena baik Israel maupun Hezbollah bukan bagian langsung dari draf perjanjian AS-Iran.
Baca Juga:
Bikin Trump Marah, Kepala Intelijen AS Mundur
Netanyahu menyatakan bahwa pasukannya akan tetap bersiaga di Lebanon Selatan. Operasi militer baru akan dihentikan sampai ancaman terhadap warga Israel benar-benar lenyap.
"Militer kami masih memiliki kebebasan bertindak penuh di Lebanon untuk menggagalkan ancaman apa pun," ujar Netanyahu dalam pidatonya.
Ketika dimintai tanggapan mengenai pernyataan keras Netanyahu tersebut, Presiden AS Donald Trump memberikan respons singkat. Trump menyatakan pihaknya akan melihat perkembangannya dan meyakini situasi tersebut akan dapat diselesaikan.