WAHANANEWS.CO, Jakarta - Hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali tegang setelah kedua belah pihak saling lempar bantahan terkait izin inspeksi situs nuklir oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ketidakpastian baru ini membayangi upaya pembukaan kembali jalur pelayaran global di Selat Hormuz.
Mengutip The Associated Press, selasa (23/6/2026), perselisihan ini mencuat tepat ketika Presiden Iran Masoud Pezeshkian menemui mediator di Pakistan. Di saat yang sama, tim teknis dari AS dan Iran masih melanjutkan perundingan intensif di Swiss.
Baca Juga:
Krisis Listrik Mengintai Jepang, Bangun 14 Pembangkit Nuklir Baru
Konfrontasi verbal bermula saat juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, berbicara kepada media di Teheran. Baghaei menegaskan bahwa tim inspektur PBB tidak memiliki jadwal untuk memeriksa situs pengayaan nuklir yang sempat dibom oleh militer AS tahun lalu.
Pernyataan sepihak Teheran tersebut langsung memicu polemik baru. Langkah ini secara terbuka menolak klaim yang dilontarkan oleh Wakil Presiden AS, JD Vance, sehari sebelumnya.
Rencana Evakuasi di Selat Hormuz
Baca Juga:
Bikin Trump Marah, Kepala Intelijen AS Mundur
Di tengah kebuntuan politik tersebut, sebuah rencana darurat telah disepakati oleh pihak internasional. Otoritas maritim akan mengevakuasi sekitar 11.000 awak kapal yang terdampar di Selat Hormuz.
Jalur energi vital tersebut sebelumnya diblokade total oleh militer Iran. Penutupan akses pelayaran itu terjadi pasca-meletusnya perang pada akhir Februari lalu.
Rencana evakuasi bertahap ini dirancang melalui kerja sama lintas negara secara ketat. Operasi ini melibatkan pihak Iran, Oman, negara pesisir regional, serta pihak militer AS.