WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pernyataan keras datang dari Washington di tengah perang yang kian membara di Timur Tengah, ketika pejabat tinggi Amerika Serikat secara terbuka mengklaim bahwa militer mereka sedang menghancurkan kekuatan Iran tanpa belas kasihan dari udara.
Ketegangan memuncak setelah pemerintah Amerika Serikat menyampaikan bahwa operasi militer bersama dengan Israel terhadap Iran kini berjalan dengan pembatasan tempur yang jauh lebih longgar.
Baca Juga:
Kedubes AS di Riyadh Diserang Drone, Trump Ancam Balasan Cepat
Pernyataan itu disampaikan di tengah laporan meningkatnya korban jiwa, termasuk ratusan warga sipil, sejak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meletus dalam beberapa hari terakhir.
“Para pemimpin Iran melihat ke atas dan hanya melihat kekuatan udara Amerika Serikat dan Israel setiap menit, setiap hari, sampai kami memutuskan bahwa semuanya selesai, dan Iran tidak akan bisa berbuat apa pun tentang hal itu,” kata Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth.
Pernyataan tersebut disampaikan Hegseth kepada wartawan pada Rabu (4/3/2026) waktu setempat saat menjelaskan perkembangan operasi militer Amerika Serikat di wilayah udara Iran.
Baca Juga:
Iran Terus Gempur Israel dan Aset Amerika, Kedubes AS Tak Sanggup Evakuasi Warganya
Menurutnya, jet tempur Amerika Serikat kini bergerak lebih bebas di langit Iran untuk menentukan target serangan.
“Ia menambahkan bahwa jet tempur AS yang beroperasi di atas Iran kini ‘mengendalikan langit, memilih target’, serta membawa ‘kematian dan kehancuran dari langit, sepanjang hari’.”
Dalam pernyataannya, Hegseth juga menegaskan bahwa operasi militer yang berlangsung memang tidak dimaksudkan sebagai pertarungan yang seimbang.
“Ini tidak pernah dimaksudkan menjadi pertarungan yang adil, dan memang bukan pertarungan yang adil,” ujar Hegseth.
Ia bahkan menggambarkan strategi militer tersebut sebagai serangan terhadap lawan yang sudah berada dalam kondisi lemah.
“Kami memukul mereka saat mereka sudah terjatuh, dan memang begitulah seharusnya.”
Ucapan tersebut memicu kecaman keras dari pemerintah Iran yang menilai pernyataan itu sebagai pengakuan terbuka atas praktik kejahatan perang.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menuding pernyataan Menteri Pertahanan AS menunjukkan mentalitas agresif yang berbahaya.
“Hanya mentalitas NAZI yang dapat dengan dingin melepaskan kematian dan kehancuran terhadap bangsa lain hanya untuk ‘memuaskan keinginan’ atasannya,” tulis Baghaei.
Pernyataan itu disampaikan Baghaei melalui unggahan di platform X pada Rabu (4/3/2026) saat menanggapi komentar pejabat Amerika Serikat.
Nada keras Washington tidak berhenti di sana karena Gedung Putih juga menyampaikan pernyataan yang sejalan dengan sikap Pentagon.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan dominasi udara Amerika Serikat di Iran segera tercapai dalam waktu dekat.
“Dalam beberapa jam ke depan, kami akan mencapai dominasi di langit, yang berarti militer Amerika Serikat akan menghujani Iran dengan rudal dan senjata untuk menghantam target-target spesifik yang telah diidentifikasi sebagai sangat penting untuk dilumpuhkan oleh Departemen Perang.”
Sementara itu, pemerintah Iran juga menuduh serangan udara Amerika Serikat dan Israel telah mengenai sejumlah target sipil di berbagai wilayah negara tersebut.
Menurut Teheran, beberapa serangan disebut menghantam fasilitas publik seperti sekolah, rumah sakit, hingga pasar.
Baghaei memaparkan bahwa sejumlah lokasi sipil yang diserang meliputi gedung perumahan, pusat layanan medis, hingga pasar jalanan.
Salah satu insiden paling mematikan terjadi pada awal kampanye militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang dimulai pada 28 Februari.
Serangan udara dilaporkan menghantam sebuah sekolah perempuan di kota Minab di Iran selatan.
Insiden tersebut menurut pemerintah Iran menewaskan sedikitnya 165 orang.
Menanggapi laporan tersebut, pihak Gedung Putih menyatakan bahwa insiden itu sedang diteliti oleh Pentagon.
“Saya menegaskan kembali bahwa Departemen Perang dan angkatan bersenjata Amerika Serikat tidak menargetkan warga sipil,” ujar Leavitt.
Dalam pengarahan yang dilakukan pada Rabu (4/3/2026), Pentagon juga mempresentasikan peta operasi militer yang menggambarkan serangan udara Amerika Serikat selama 100 jam pertama ofensif di Iran.
Grafik tersebut menunjukkan bahwa dua serangan udara terjadi di atau dekat wilayah Minab.
Perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini telah berkembang menjadi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Sejak konflik pecah, Amerika Serikat dan Israel dilaporkan telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei bersama sejumlah pejabat tinggi lainnya.
Serangan juga menyasar kapal-kapal Iran serta berbagai instalasi militer di beberapa wilayah strategis.
Di sisi lain, Iran dituduh melakukan serangan balasan dengan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah target sipil di kawasan Teluk.
Target yang disebut terkena serangan termasuk fasilitas energi, hotel, dan bandara.
Meski ribuan serangan udara telah dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel, struktur kekuasaan Iran disebut masih bertahan.
Hingga kini belum terlihat adanya perlawanan internal besar terhadap sistem Republik Islam yang memerintah negara tersebut.
Di tengah situasi kehancuran dan krisis kemanusiaan yang terus meluas di kawasan Timur Tengah, Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru menyatakan kepuasannya terhadap jalannya operasi militer.
“Dan kami melakukannya dengan sangat baik di medan perang, kalau boleh saya katakan secara sederhana,” kata Trump.
Ia bahkan menilai operasi militer tersebut melampaui ekspektasi yang sebelumnya dibayangkan.
“Seseorang bertanya, ‘Dalam skala 10, bagaimana Anda menilainya?’ Saya menjawab sekitar 15,” tuturnya.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]