Meski demikian, tujuan akhir dari kebijakan tersebut dinilai belum jelas oleh sejumlah analis internasional.
Disampaikan Andrea Ghiselli, asisten profesor hubungan internasional Universitas Fudan Beijing, bahwa salah satu kemungkinan tujuan blokade adalah menekan negara-negara pengimpor minyak Iran.
Baca Juga:
Iran Setuju Hentikan Program Pengayaan Nuklir 5 Tahun, Tapi AS Minta 20
"Salah satu kemungkinan penjelasannya adalah untuk menekan negara-negara pengimpor minyak Iran, terutama China, agar mendesak Iran untuk menerima syarat-syarat AS untuk mengakhiri perang," kata Ghiselli, Selasa (14/5/2026).
Namun, ia menilai asumsi tersebut tidak sepenuhnya terbukti di lapangan karena sejumlah kapal yang dikenai sanksi justru tetap bisa melintas.
"Namun, ada laporan tentang kapal milik China, yang dikenal memfasilitasi perdagangan minyak Iran dan dikenai sanksi, telah melintas melalui selat tanpa dihentikan, (sehingga) hipotesis pertama itu tampaknya salah," lanjut dia.
Baca Juga:
Kerusakan Serangan AS-Israel ke Iran Ditaksir Capai 270 Miliar Dolar AS
Para analis lain menyebut bahwa langkah Trump lebih berorientasi pada upaya menekan perekonomian Iran melalui jalur energi.
Namun kebijakan tersebut juga membawa konsekuensi besar terhadap stabilitas pasokan minyak global.
Disebutkan CEO Rapidan Energy Group, Scott Modell, bahwa langkah ini berisiko memicu guncangan pasokan minyak terbesar dalam sejarah.