Hasil jajak pendapat New York Times/Siena yang dipublikasikan Senin (18/5/2026) menunjukkan sekitar 64 persen responden menilai keputusan berperang melawan Iran merupakan langkah yang salah.
Survei tersebut juga menunjukkan hanya 37 persen responden yang menyetujui kinerja Trump sebagai presiden.
Baca Juga:
DPR: Ucapan Prabowo soal Dolar Bukan untuk Dibaca Secara Harfiah
Hasil survei itu dinilai menjadi tantangan besar bagi Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu, terutama di tengah meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap perang serta penanganan ekonomi dan imigrasi oleh pemerintahan Trump.
Pasukan Israel dan Amerika Serikat sebelumnya melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian dibalas Teheran dengan peluncuran drone dan rudal ke Israel serta target Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Negara-negara Arab di Teluk disebut membujuk Trump membatalkan serangan baru karena khawatir Iran akan melancarkan serangan balasan ke negara-negara tetangga apabila konflik kembali memanas.
Baca Juga:
Demi Proyek Rp 107 Miliar, Pengusaha Suap Bupati Bekasi Rp 11 Miliar
Iran diketahui masih memiliki persediaan drone dan rudal yang dapat digunakan untuk menyerang bandara, fasilitas petrokimia, hingga instalasi desalinasi air di kawasan Teluk.
Selain itu, Iran juga masih menguasai Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas alam cair dunia.
Blokade Selat Hormuz yang dilakukan Iran sebagai respons atas serangan Amerika Serikat dan Israel telah menyebabkan lonjakan harga minyak dunia.