Di sisi lain, Amerika Serikat juga memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran guna menekan Teheran agar menerima syarat yang diajukan Washington.
Media Iran, Tasnim, mempublikasikan kembali pernyataan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei yang memperingatkan bahwa front baru akan dibuka di wilayah yang tidak dikuasai musuh dan sangat rentan.
Baca Juga:
DPR: Ucapan Prabowo soal Dolar Bukan untuk Dibaca Secara Harfiah
Pada Senin (18/5/2026), pemerintah Iran menyatakan telah memberikan tanggapan atas proposal terbaru Amerika Serikat dan negosiasi masih terus berlangsung melalui Pakistan sebagai mediator.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyebut tuntutan pemerintah Iran bersifat "bertanggung jawab" dan "dermawan".
Menurut laporan Tasnim, Iran meminta penghentian perang di semua front termasuk serangan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon, penghentian blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran, jaminan tidak ada serangan lanjutan, kompensasi kerusakan perang, serta pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.
Baca Juga:
Demi Proyek Rp 107 Miliar, Pengusaha Suap Bupati Bekasi Rp 11 Miliar
Sementara itu, kantor berita Fars melaporkan Amerika Serikat mengajukan lima syarat, termasuk meminta Iran hanya mempertahankan satu fasilitas nuklir aktif dan memindahkan stok uranium yang diperkaya tinggi ke AS.
Trump sebelumnya juga mengisyaratkan bersedia menerima penangguhan program nuklir Iran selama 20 tahun yang menjadi salah satu sumber utama ketegangan kedua negara.
Amerika Serikat dan sekutu Eropanya menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir melalui pengayaan uranium, sementara Teheran terus menegaskan program nuklirnya hanya untuk tujuan damai.