Trump disebut khawatir serangan terhadap kilang minyak Iran dapat memicu efek domino yang berujung pada krisis ekonomi global.
Jika serangan terhadap infrastruktur energi Iran terus berlangsung, para analis memperkirakan harga minyak dunia bisa melonjak hingga 200 dolar AS per barel atau setara sekitar Rp 3,1 juta.
Baca Juga:
Tegang di Selat Hormuz, Kemlu Lakukan Diplomasi Intensif ke Iran Demi Kapal Indonesia
“Presiden tidak suka serangan ke fasilitas minyak. Beliau ingin menyelamatkan minyak itu, bukan membakarnya,” ungkap seorang penasihat senior Trump mengutip laporan Axios pada Rabu (11/3/2026).
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa Trump memiliki rencana jangka panjang terkait sektor energi Iran, termasuk kemungkinan kerja sama atau penguasaan ekonomi di masa depan, sehingga ia tidak ingin infrastruktur tersebut hancur akibat konflik militer.
Ketegangan yang meningkat ini juga menjalar hingga ke Selat Hormuz yang selama ini dikenal sebagai jalur energi paling vital di dunia.
Baca Juga:
Indonesia Siap Kirim 20.000 Prajurit ke Gaza, Tapi Akhirnya Hanya 8.000! Ini Alasannya
Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC memperingatkan bahwa kapal-kapal yang memiliki afiliasi dengan Amerika Serikat, Israel, maupun sekutu mereka tidak akan diizinkan melintas di jalur strategis tersebut.
Iran bahkan memperlakukan kapal-kapal tersebut sebagai target militer yang sah apabila tetap mencoba melewati perairan tersebut.
Akibat meningkatnya risiko keamanan, industri pelayaran internasional melaporkan sekitar 300 kapal tanker raksasa dan kapal kontainer kini tertahan di kedua sisi Selat Hormuz karena kekhawatiran menjadi sasaran rudal atau drone Iran.