WAHANANEWS.CO, Jakarta - Hamas kembali mendesak komunitas internasional agar mengambil tindakan nyata untuk menghentikan dugaan pelanggaran Israel terhadap perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza.
Desakan tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap situasi kemanusiaan yang kian memburuk di wilayah itu. Informasi tersebut dilaporkan kantor berita Xinhua pada Rabu, 21 Januari 2026.
Baca Juga:
1 Orang Tentaranya Dibunuh, Israel Bombardir Gaza 104 Orang Tewas
Seruan itu disampaikan melalui sebuah memorandum politik yang diajukan kepada para mediator gencatan senjata, yakni Mesir, Qatar, dan Türkiye, serta kepada negara-negara penjamin dan organisasi internasional terkait.
Penyampaian memorandum tersebut bertepatan dengan peringatan 100 hari diberlakukannya gencatan senjata yang dimulai sejak 10 Oktober 2025.
Dalam memorandum tersebut, Hamas menegaskan komitmen penuh mereka terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Baca Juga:
Presiden AS Trump Belum Tetapkan Batas Waktu Hamas Lucuti Senjata di Gaza
Kelompok itu menilai perjanjian tersebut sebagai kerangka yang mengikat untuk menghentikan pertumpahan darah dan melindungi warga sipil, bukan sebagai alat politik yang dapat dimanfaatkan untuk melanjutkan aksi militer.
Hamas mengungkapkan bahwa sejak gencatan senjata diberlakukan, sebanyak 483 warga Palestina dilaporkan meninggal dunia di Jalur Gaza.
Dari jumlah tersebut, sekitar 96,3 persen korban berada di wilayah yang seharusnya mendapat perlindungan sesuai dengan ketentuan perjanjian gencatan senjata.
Kelompok tersebut juga menuduh Israel telah melakukan sedikitnya 1.298 pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut.
Pelanggaran yang dimaksud meliputi tembakan langsung, masuknya kendaraan militer ke zona gencatan senjata, serta serangan udara dan artileri yang menyasar kawasan permukiman sipil.
Selain pelanggaran militer, Hamas menuding Israel telah memperparah krisis kemanusiaan dengan membatasi sektor kesehatan di Gaza.
Pembatasan itu disebut mencakup pemblokiran pasokan medis penting, bahan rekonstruksi, serta pembatasan masuknya bantuan kemanusiaan ke wilayah tersebut.
Hamas menegaskan perlunya pelaksanaan penuh fase pertama gencatan senjata dan mendesak agar proses segera dilanjutkan ke fase kedua.
Fase lanjutan tersebut mencakup penarikan total pasukan Israel dari Jalur Gaza sebagai bagian dari upaya menciptakan stabilitas jangka panjang.
Selain itu, Hamas juga menyerukan pembentukan mekanisme pemantauan internasional yang netral untuk mengawasi pelaksanaan gencatan senjata sekaligus memastikan kelancaran distribusi bantuan kemanusiaan.
Dalam hal ini, kelompok tersebut meminta agar sebanyak 600 truk bantuan dapat masuk ke Gaza setiap hari.
Di sisi lain, sebuah komite teknokrat Palestina yang dibentuk untuk mengelola Gaza pascaperang dilaporkan masih menghadapi hambatan untuk memasuki wilayah tersebut.
Hambatan itu disebut-sebut terjadi akibat pembatasan yang diberlakukan oleh pihak Israel.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]