Sejak konflik pecah, Iran mengancam akan menyerang kapal-kapal yang melintas di jalur pelayaran strategis tersebut yang selama ini menjadi lintasan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Gejolak perang membuat pasar energi global mengalami volatilitas tinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Baca Juga:
Cekcok di Jalan Berujung Ancaman Sajam, Polisi Usut Video Viral di Bogor
Harga minyak mentah Brent yang sebelumnya berada di kisaran US$70 per barel sebelum konflik pecah sempat melonjak hingga sekitar US$120 per barel selama perang berlangsung.
Meski kesepakatan damai telah diumumkan, sejumlah analis menilai pasokan minyak dunia tidak akan langsung kembali normal dalam waktu singkat.
Analis pasar energi dari Vanda Insights, Vandana Hari, mengatakan minimnya rincian mengenai isi kesepakatan berpotensi menimbulkan ketidakpastian di pasar.
Baca Juga:
Polisi Ungkap Motif Percobaan Penculikan Lansia di PIK, Dipicu Asmara Tak Direstui
Ia menilai kondisi tersebut dapat membuat pasar minyak tetap bergejolak hingga proses penandatanganan resmi dilakukan di Swiss pada Jumat (19/06/2026).
Sementara itu, konsultan energi dari Lipow Oil Associates, Andrew Lipow, menjelaskan bahwa ranjau laut yang masih berada di Selat Hormuz perlu dibersihkan terlebih dahulu sebelum jalur pelayaran dapat kembali beroperasi secara normal.
Menurutnya, proses tersebut dapat memakan waktu beberapa pekan hingga enam bulan.