WAHANANEWS.CO, Jakarta - Selat Hormuz yang menjadi urat nadi energi dunia mendadak lumpuh, memaksa pemimpin Inggris dan Amerika Serikat turun tangan membahas pembukaannya di tengah eskalasi konflik Timur Tengah, Senin (23/3/2026).
Percakapan via telepon dilakukan antara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden AS Donald Trump untuk menyoroti dampak serius penutupan jalur strategis tersebut terhadap stabilitas global.
Baca Juga:
Iran Sampaikan Salam Idulfitri untuk RI dan Pesan Keras untuk AS-Israel
Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, namun sejak perang Iran melawan AS dan Israel pecah pada 28 Februari, aktivitas kapal dilaporkan anjlok hingga sekitar 95 persen.
Kondisi ini dipicu oleh langkah Iran yang secara efektif memblokir jalur tersebut sebagai respons atas serangan militer yang dilancarkan AS dan Israel.
"Sangat penting untuk menjaga stabilitas pasar energi global dengan membuka kembali Selat Hormuz," ujar juru bicara Downing Street, mengutip hasil pembicaraan kedua pemimpin.
Baca Juga:
Iran Balas Ultimatum Trump: Siap Bikin Negara Teluk Mati Lampu dan Kehausan
Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan gas alam cair melewati Selat Hormuz, sehingga gangguan di jalur ini langsung memicu gejolak harga energi global.
Seiring konflik yang terus meningkat, harga minyak mentah dunia dilaporkan melonjak hingga 45 persen dan menyentuh kisaran US$106 per barel.
Lonjakan ini memperparah tekanan ekonomi global, termasuk meningkatnya biaya hidup masyarakat di berbagai negara.
"‘Menghancurkan’ fasilitas energi Iran jika tidak membuka kembali Selat Hormuz," ancam Trump.
Ancaman tersebut mempertegas bahwa konflik Iran dengan AS dan Israel kini telah meluas ke sektor energi, tidak lagi terbatas pada aspek militer semata.
Sebagai balasan, Iran menyatakan akan menargetkan fasilitas energi yang terkait dengan AS di kawasan Teluk apabila ancaman tersebut direalisasikan.
Situasi ini memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik ke wilayah yang lebih luas di Timur Tengah.
Di Inggris, Starmer dijadwalkan memimpin rapat darurat Cobra guna membahas dampak konflik terhadap ekonomi domestik.
Pertemuan itu akan melibatkan sejumlah pejabat penting, termasuk Gubernur Bank of England, untuk mengkaji keamanan energi, gangguan rantai pasok, serta lonjakan biaya hidup.
Ketegangan juga meningkat di sektor militer setelah Iran dilaporkan memiliki kemampuan rudal jarak jauh hingga 4.000 kilometer.
Iran bahkan disebut sempat menargetkan pangkalan militer gabungan AS-Inggris di Diego Garcia di Samudra Hindia.
Dua rudal balistik diluncurkan dalam serangan tersebut, namun satu gagal mencapai target dan satu lainnya berhasil dicegat.
Pemerintah Inggris juga telah memberikan izin kepada AS untuk menggunakan pangkalan militernya dalam melancarkan serangan terhadap target Iran yang berkaitan dengan Selat Hormuz.
Kebijakan ini menandai perubahan sikap Inggris yang sebelumnya hanya mengizinkan penggunaan pangkalan untuk operasi defensif.
Dengan situasi yang semakin memanas, Selat Hormuz kini menjadi titik krusial dalam konflik Iran dengan AS dan Israel.
Jika jalur ini tetap tertutup, dampaknya berpotensi mengguncang ekonomi global secara luas, tidak hanya di kawasan Timur Tengah.
Sebelumnya, harga minyak mentah dunia juga mengalami lonjakan usai Trump memberikan ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Dilaporkan Bloomberg, harga minyak Brent kontrak Mei naik 1,5 persen ke level US$113,90 per barel pada pukul 06.01 waktu Singapura.
Sementara itu, harga minyak WTI untuk pengiriman Mei meningkat 2,1 persen ke level US$100,28 per barel.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]