Temuan intelijen ini menunjukkan Iran masih memiliki kapasitas untuk mengancam pelayaran komersial dan armada Angkatan Laut AS di kawasan Teluk.
Kesimpulan tersebut bertolak belakang dengan klaim Presiden Donald Trump dan sejumlah pejabat senior AS yang sebelumnya menyatakan kemampuan militer Iran telah lumpuh.
Baca Juga:
Panas! Hotman Paris Minta Pejabat Komnas Perempuan Dipecat Usai Komentari Kasus YTR
Bulan lalu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan operasi militer itu telah membuat Teheran tidak efektif untuk bertempur selama bertahun-tahun.
Lebih dari sebulan setelah gencatan senjata diberlakukan, belum terlihat kemajuan berarti menuju kesepakatan permanen antara kedua pihak.
Di tengah situasi tersebut, Iran justru memperkuat pengaruhnya di Selat Hormuz.
Baca Juga:
Sudah Muak, Trump Bentak Netanyahu via Telepon soal Gencatan Senjata Gaza
Teheran dilaporkan mencapai kesepakatan dengan Irak dan Pakistan terkait pengiriman minyak dan gas alam cair dari kawasan tersebut.
Kantor berita Fars News Agency mengutip seorang pejabat Garda Revolusi Iran yang menyatakan bahwa definisi kawasan Selat Hormuz telah diperluas dari kota pesisir Jask di timur hingga Pulau Siri di barat.
Di sisi lain, Amerika Serikat mulai menghadapi tekanan terhadap persediaan amunisi penting.