Trump bahkan secara blak-blakan mengakui bahwa dirinya berada di balik penghancuran jembatan suspensi B1 setinggi 136 meter senilai US$ 400 juta (Rp 6,8 triliun) pada hari Kamis lalu. Ia sengaja memerintahkan serangan tersebut sebagai bentuk intimidasi karena menganggap pihak Iran mencoba mengulur waktu dalam proses perundingan.
"Tetapi kemudian mereka bilang akan menemui kami dalam lima hari. Jadi saya bilang, 'Kenapa lima hari?' Saya merasa mereka tidak serius. Jadi saya serang jembatannya," pungkas Trump saat berbicara kepada Axios.
Baca Juga:
Militer Iran Tegaskan Misi Penyelamatan F-15 AS Berakhir Gagal Total
Menanggapi rentetan ancaman tersebut, Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa langkah sembrono Presiden Amerika Serikat hanya akan membawa kehancuran bagi seluruh wilayah Timur Tengah. Ia menegaskan bahwa gertakan Trump justru akan menyeret Amerika ke dalam situasi yang sangat berbahaya.
"Langkah sembrono Anda menyeret Amerika Serikat ke dalam NERAKA yang nyata bagi setiap keluarga, dan seluruh wilayah kami akan terbakar karena Anda bersikeras mengikuti perintah Netanyahu. Jangan salah: Anda tidak akan mendapatkan apa pun melalui kejahatan perang. Satu-satunya solusi nyata adalah menghormati hak-hak rakyat Iran dan mengakhiri permainan berbahaya ini," tulis Ghalibaf melalui akun media sosialnya.
Kritik tajam juga datang dari dalam negeri Amerika Serikat, di mana Pemimpin Minoritas Senat dari Partai Demokrat, Chuck Schumer, menyebut tindakan Trump sebagai aksi yang tidak terkendali. Schumer menilai ancaman terhadap infrastruktur sipil yang dilontarkan sang presiden sangat mencederai martabat negara.
Baca Juga:
Dua Hari Hilang di Iran, Pilot F-15E AS Diselamatkan Lewat Operasi Militer Dramatis
"Selamat Paskah, Amerika. Saat Anda pergi ke gereja dan merayakan bersama teman serta keluarga, Presiden Amerika Serikat justru mengoceh seperti orang gila yang tidak terkendali di media sosial. Dia mengancam kemungkinan kejahatan perang dan mengasingkan sekutu. Inilah dia, tapi ini bukan siapa kita. Negara kita layak mendapatkan yang jauh lebih baik," tegas Schumer melalui platform X.
Senada dengan Schumer, pakar hukum internasional dari Universitas Yale, Oona A. Hathaway, memberikan peringatan dari sisi legalitas perang. Menurutnya, serangan terhadap objek sipil seperti yang direncanakan Trump jelas-jelas merupakan pelanggaran hukum internasional yang berat.
"Jika serangan yang diancamkan ini benar-benar dilakukan, maka itu akan menjadi kejahatan perang. Menyengsarakan penduduk sipil demi kepentingan tawar-menawar adalah tindakan yang tidak sah secara hukum," kata Hathaway.