WAHANANEWS.CO, Jakarta - Dua mantan perdana menteri Israel bersatu dalam langkah politik mengejutkan yang berpotensi mengguncang kekuasaan lama, Minggu (26/4/2026).
Naftali Bennett dan Yair Lapid resmi mengumumkan pembentukan koalisi untuk menghadapi pemilihan umum tahun ini.
Baca Juga:
Israel Kembali Hantam Jalur Gaza, Bocah 14 Tahun Tewas Kena Rudal
Langkah ini diarahkan untuk menantang dominasi Benjamin Netanyahu yang masih memimpin pemerintahan.
Koalisi tersebut diwujudkan melalui pembentukan partai baru bernama Beyahad yang akan dipimpin oleh Bennett.
“Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa malam ini, bersama dengan teman saya Yair Lapid, saya mengambil langkah paling Zionis dan patriotik yang pernah kami ambil untuk negara kami,” kata Bennett.
Baca Juga:
Gencatan Senjata Dilanggar, Serangan Israel di Lebanon Tewaskan 14 Orang
Kedua tokoh itu menyatakan optimisme tinggi bahwa kolaborasi mereka akan membuka babak baru dalam politik Israel.
Lapid yang saat ini menjabat sebagai pemimpin oposisi menyampaikan dukungannya terhadap Bennett sebagai figur utama dalam koalisi.
Ia menilai Bennett sebagai sosok yang memiliki integritas meskipun berasal dari spektrum politik yang berbeda.
Koalisi Beyahad juga membawa agenda besar jika berhasil memenangkan pemilu mendatang.
Salah satu program utamanya adalah pembentukan komisi penyelidikan nasional terkait kegagalan intelijen dan militer dalam menghadapi serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Pemerintahan Netanyahu selama ini diketahui belum menyetujui pembentukan komisi tersebut.
Bennett dan Lapid selama ini dikenal sebagai pengkritik keras kebijakan Netanyahu dalam menangani konflik dan perang.
Lapid bahkan menilai kebijakan gencatan senjata dua minggu dengan Iran sebagai keputusan yang berdampak negatif secara politik.
“Bencana politik,” sebut Lapid.
Hubungan Bennett dengan Netanyahu sendiri memiliki sejarah panjang yang penuh dinamika.
Ia pernah menjadi penasihat Netanyahu sebelum akhirnya bertransformasi menjadi rival politik yang kuat.
Bennett dikenal sebagai mantan pengusaha teknologi sukses yang menjual perusahaan rintisannya senilai 145 juta dolar AS pada 2005.
Latar belakang militernya sebagai perwira komando juga membuatnya memiliki basis dukungan yang kuat, terutama di kalangan generasi muda.
Sementara itu, Lapid memiliki latar belakang sebagai jurnalis televisi sebelum memasuki dunia politik pada 2012.
Ia mendirikan partai Yesh Atid yang kini menjadi salah satu kekuatan utama di parlemen Israel.
Lapid juga sempat menjabat sebagai perdana menteri sementara pada 2022.
Dalam perkembangan terbaru, Bennett disebut sebagai kandidat paling kuat untuk menantang Netanyahu dalam pemilu mendatang berdasarkan hasil jajak pendapat.
Ia juga mengajak tokoh sentris Gadi Eisenkot untuk bergabung memperkuat koalisi.
Di sisi lain, Netanyahu tetap bersiap memimpin partai Likud dalam pemilu mendatang meski menghadapi tantangan serius.
Sebagai pemimpin terlama dalam sejarah Israel dengan total masa jabatan 18 tahun, posisinya kini diuji oleh mantan sekutu yang berbalik menjadi pesaing.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]