WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pembangunan manusia di Jalur Gaza dilaporkan mengalami kemunduran sangat tajam, bahkan diperkirakan setara dengan kondisi hampir delapan dekade lalu.
Peringatan serius ini disampaikan oleh Program Pembangunan PBB bersama Uni Eropa dalam kajian terbaru mereka terkait dampak konflik berkepanjangan di wilayah tersebut.
Baca Juga:
Tiongkok Desak Gencatan Senjata Menyeluruh dan Berkelanjutan di Jalur Gaza
Dalam laporan bertajuk Rapid Damage and Needs Assessment (RDNA) yang turut disusun bersama Bank Dunia, disebutkan bahwa kebutuhan pembiayaan untuk pemulihan dan rekonstruksi Gaza mencapai USD71,4 miliar atau setara sekitar Rp1.100 triliun untuk periode sepuluh tahun ke depan.
Laporan tersebut juga menegaskan urgensi penanganan cepat untuk mengatasi kerusakan multidimensi akibat konflik.
Dari total kebutuhan dana tersebut, sekitar USD26,3 miliar diperlukan pada 18 bulan pertama.
Baca Juga:
Bantuan Kemanusiaan Mengalir, UNICEF dan WFP Soroti Ancaman Serius bagi Anak Gaza
Anggaran ini difokuskan untuk memulihkan layanan dasar masyarakat, membangun kembali infrastruktur vital, serta mendorong kebangkitan aktivitas ekonomi yang lumpuh akibat konflik.
Konflik yang memanas setelah serangan yang dipimpin oleh Hamas ke wilayah selatan Israel pada Oktober 2023 telah menyebabkan kerusakan fisik dengan nilai ditaksir mencapai USD35,2 miliar.
Selain itu, dampak kerugian ekonomi dan sosial tambahan diperkirakan mencapai USD22,7 miliar, memperparah kondisi masyarakat yang sudah terdampak krisis sebelumnya.