Laporan tersebut juga mengungkap bahwa hampir seluruh sektor kehidupan mengalami kehancuran signifikan.
Sektor perumahan, layanan kesehatan, pendidikan, perdagangan, hingga pertanian tercatat mengalami kerusakan berat yang memerlukan pemulihan jangka panjang.
Baca Juga:
Tiongkok Desak Gencatan Senjata Menyeluruh dan Berkelanjutan di Jalur Gaza
Sebanyak lebih dari 371.000 unit rumah dilaporkan hancur atau mengalami kerusakan. Di sektor kesehatan, lebih dari separuh fasilitas rumah sakit tidak lagi berfungsi secara optimal.
Sementara itu, hampir seluruh bangunan sekolah mengalami kerusakan, yang berdampak langsung pada terganggunya proses pendidikan bagi anak-anak di Gaza.
Dampak sosial dari konflik ini juga sangat besar. Lebih dari 60 persen penduduk kehilangan tempat tinggal, sementara sekitar 1,9 juta warga terpaksa mengungsi, bahkan dalam beberapa kasus harus berpindah tempat berkali-kali untuk mencari keamanan.
Baca Juga:
Bantuan Kemanusiaan Mengalir, UNICEF dan WFP Soroti Ancaman Serius bagi Anak Gaza
Kondisi ekonomi Gaza pun mengalami kontraksi ekstrem hingga mencapai 84 persen. Dalam situasi ini, kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, lansia, serta penyandang disabilitas menjadi pihak yang paling terdampak dan menghadapi risiko terbesar dalam krisis kemanusiaan tersebut.
Menurut otoritas setempat, konflik yang telah berlangsung lebih dari dua tahun ini menyebabkan lebih dari 71.000 warga Palestina meninggal dunia, serta lebih dari 171.000 lainnya mengalami luka-luka.
Banyak korban dilaporkan masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan, menambah kompleksitas penanganan pascakonflik.