“Menjaga keamanan, stabilitas, dan kelancaran arusnya adalah kepentingan bersama komunitas internasional,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun.
Perserikatan Bangsa-Bangsa turut menyoroti dampak kemanusiaan dari situasi ini dengan menyebut ribuan pelaut kini terjebak di kapal dalam kondisi yang semakin sulit.
Baca Juga:
Arab Saudi Panik, Blokade Hormuz Bisa Picu Iran Tutup Jalur Laut Merah
Sementara itu, Iran merespons keras dengan menyebut blokade yang dilakukan Amerika Serikat sebagai tindakan pembajakan dan ancaman terhadap kedaulatan negara.
Teheran memperingatkan bahwa jika keamanan pelabuhannya terganggu, maka kawasan Teluk Persia dan Laut Arab tidak akan lagi aman bagi siapa pun.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan negaranya tidak akan tunduk pada tekanan atau ancaman eksternal.
Baca Juga:
Jurus Mitigasi Melambungnya Harga Plastik
Kepala Angkatan Laut Iran Shahram Irani bahkan menyebut kebijakan blokade tersebut sebagai tindakan yang tidak masuk akal.
Di tengah situasi yang memanas, Prancis dan Inggris berencana menginisiasi misi multinasional untuk mengamankan Selat Hormuz melalui pendekatan defensif.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa misi tersebut akan dijalankan jika kondisi memungkinkan guna menjaga stabilitas kawasan.