Pernyataan resmi tersebut disampaikan Salih di Nairobi setelah melakukan pertemuan dengan Presiden Kenya William Ruto dan meninjau langsung Kamp Pengungsi Kakuma.
Pada Maret 2025, pemerintah Kenya meluncurkan sebuah program bersejarah yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup lebih dari 800.000 pengungsi dan pencari suaka.
Baca Juga:
Trump Tarik Amerika Serikat dari WHO, Pakar Nilai Risiko Kesehatan Dunia Meningkat
Program ini juga menyasar masyarakat tuan rumah dengan mengubah kawasan kamp pengungsi menjadi permukiman terpadu yang inklusif.
Program bernama Rencana Shirika tersebut dirancang untuk menggeser pendekatan dari ketergantungan bantuan kemanusiaan menuju kemandirian jangka panjang pengungsi.
Selain itu, program ini bertujuan menciptakan kehidupan yang harmonis antara pengungsi dan komunitas tuan rumah.
Baca Juga:
Mundurnya AS Ubah Peta Global, China Fokus Pengaruh Terukur
Melalui Rencana Shirika, pengungsi memperoleh akses terhadap dokumen identitas hukum dan izin kerja.
Mereka juga dapat memanfaatkan layanan perbankan serta sistem uang digital untuk mendukung aktivitas ekonomi mereka.
Selain akses ekonomi, pengungsi juga diberikan kesempatan mengikuti pendidikan publik serta memperoleh layanan kesehatan universal.