WAHANANEWS.CO, Jakarta - Setelah 39 hari perang yang menguras kekuatan militer dan finansial, Amerika Serikat dan Iran akhirnya sepakat melakukan gencatan senjata dua pekan yang langsung membuka babak baru ketegangan geopolitik global.
Kesepakatan tersebut mulai berlaku pada Rabu (9/4/2026) dan menghentikan sementara konflik yang telah menyebabkan puluhan aset militer hancur serta kerugian fantastis.
Baca Juga:
Pimpinan Hizbullah Dikabarkan Tewas, Israel Hantam Hizbullah di Tengah Gencatan Senjata
Selama perang berlangsung, tercatat sedikitnya 37 pesawat militer Amerika Serikat—baik berawak maupun nirawak—hancur dan rusak dengan total kerugian mencapai sekitar USD1,7 miliar atau lebih dari Rp28 triliun.
Tak lama setelah pengumuman gencatan senjata, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pernyataan melalui Truth Social terkait langkah lanjutan Washington.
“Akan ada banyak tindakan positif! Uang besar akan dihasilkan!” tulisnya.
Baca Juga:
Trump Ngamuk ke CNN, Tolak Keras Narasi Iran Menang Perang
Trump kemudian menyinggung rencana keterlibatan AS dalam mendukung aktivitas di Selat Hormuz pasca konflik.
“Iran dapat memulai proses rekonstruksi, kita akan mengirimkan berbagai macam pasokan dan hanya ‘berada di sekitar’ untuk memastikan semuanya berjalan dengan baik,” lanjutnya.
Ia juga menyebut kesepakatan ini sebagai momentum besar bagi perdamaian global meski tidak merinci mekanisme dukungan AS di kawasan tersebut.
“Hari besar untuk Perdamaian Dunia! Iran menginginkannya terjadi, mereka sudah muak! Begitu pula semua orang!”
Di sisi lain, Iran justru mengklaim hasil kesepakatan ini sebagai kemenangan besar atas Amerika Serikat dan sekutunya.
Pernyataan resmi disampaikan oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang menegaskan posisi mereka dalam konflik tersebut.
“Musuh telah menderita kekalahan yang tak terbantahkan dan sekarang melihat tidak ada jalan lain selain tunduk pada kehendak bangsa Iran yang agung dan Poros Perlawanan yang terhormat.”
Iran juga menyebut bahwa Amerika Serikat telah menerima proposal 10 poin yang diajukan Teheran sebagai dasar gencatan senjata.
Proposal tersebut mencakup sejumlah tuntutan strategis seperti gencatan senjata permanen, pencabutan seluruh sanksi, serta penarikan pasukan tempur AS dari kawasan.
Meski konflik berhenti sementara, kerugian militer yang dialami Amerika Serikat terbilang signifikan, terutama pada sektor kekuatan udara.
Berikut daftar 37 pesawat militer Amerika Serikat yang hancur dan rusak berdasarkan data berbagai sumber militer:
Total Pesawat Hancur: 25 Unit
• F-15E Strike Eagle: 1 unit (ditembak jatuh Iran)
• A-10 Thunderbolt II: 1 unit (ditembak jatuh Iran)
• MC-130J Commando II: 2 unit (dihancurkan sendiri oleh AS)
• MH-6 Little Bird: 4 unit (dihancurkan sendiri oleh AS)
• CH-47 Chinook: 1 unit (diklaim akibat serangan drone Iran)
• F-15E: 3 unit (insiden friendly-fire di Kuwait)
• Drone MQ-9 Reaper: 12 unit (ditembak jatuh Iran)
• KC-135: 1 unit (tabrakan udara di Irak)
Total Pesawat Rusak: 12 Unit
• UH-60 Black Hawk: 2 unit (terkena tembakan Iran saat misi penyelamatan)
• E-3 Sentry AWACS: 2 unit (terkena serangan Iran di Arab Saudi)
• UH-60: 1 unit (diserang drone milisi Irak pro-Iran)
• F-35: 1 unit (diduga terkena tembakan Iran)
• KC-135: 5 unit (terkena serangan rudal Iran di Arab Saudi)
• KC-135: 1 unit (tabrakan udara di Irak)
Estimasi Kerugian Finansial
• Pesawat hancur: USD1 miliar hingga USD1,1 miliar
• Pesawat rusak: USD0,4 miliar hingga USD0,6 miliar
Kerugian ini menjadi salah satu yang terbesar bagi Amerika Serikat sejak konflik panjang di Afghanistan dan menambah kompleksitas situasi keamanan di kawasan Timur Tengah.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]