Para pelaut dan marinir tersebut berasal dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 dan tiba pada 27 Maret bersama "pesawat angkut dan jet tempur serang, serta aset serangan amfibi dan taktis", menurut CENTCOM.
Pejabat yang berbicara kepada The Washington Post mengatakan diskusi dalam pemerintahan selama sebulan terakhir mencakup kemungkinan merebut Pulau Kharg, pusat ekspor minyak penting Iran di Teluk, serta serangan ke wilayah pesisir lain di dekat Selat Hormuz untuk menemukan dan menghancurkan senjata yang dapat menargetkan pelayaran komersial dan militer.
Baca Juga:
Alutsista Miliaran Dolar Berguguran, Iran Bikin AS Rugi Triliunan
Menurut laporan tersebut, seorang sumber menyebut tujuan operasi kemungkinan membutuhkan "minggu, bukan bulan" untuk diselesaikan, sementara sumber lain memperkirakan garis waktu potensial "beberapa bulan".
Pentagon belum memberikan tanggapan terhadap permintaan komentar dari media tersebut, sementara Iran juga belum merespons laporan tersebut.
Laporan itu muncul ketika Pakistan, yang berbagi perbatasan sepanjang 900 kilometer dengan Iran, berupaya memediasi antara Washington dan Teheran. Islamabad menjadi tuan rumah pembicaraan selama dua hari mulai Minggu yang melibatkan menteri luar negeri dari Arab Saudi, Turki, dan Mesir.
Baca Juga:
Eks Bos Intelijen Inggris Sebut Iran Unggul Lawan AS-Israel
Sementara itu, pejabat Iran mengeluarkan peringatan keras. Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan pada Minggu bahwa "musuh secara terbuka mengirim pesan negosiasi dan dialog dan diam-diam merencanakan serangan darat".
"Tanpa menyadari bahwa orang-orang kami menunggu kedatangan tentara Amerika di darat untuk membakar mereka dan menghukum mitra regional mereka selamanya. Tembakan kami terus berlanjut. Rudal kami sudah siap," kata Ghalibaf, dikutip kantor berita Tasnim.
"Tekad dan keyakinan kami telah meningkat. Kami menyadari kelemahan musuh, dan kami dengan jelas melihat dampak ketakutan dan teror di tentara musuh," imbuhnya.