Price menambahkan bahwa Putin juga akan memburu dukungan diplomatik penuh dari China terkait kelanjutan perang di Ukraina. Dukungan politik dari wilayah Timur ini menjadi sangat krusial bagi pertahanan geopolitik Moskow demi mengimbangi tekanan militer serta sanksi dari pakta pertahanan NATO di Eropa Timur.
"Selama Presiden Putin memiliki ambisi teritorial di wilayah Baratnya, yaitu Ukraina, dia harus memiliki kesuksesan diplomatik di wilayah Timurnya, yaitu China," jelas Price.
Baca Juga:
Perang Rusia dan Ukraina Kembali Memanas, Putin Tembakkan 200 Lebih Drone
Sementara itu, Kepala Ekonom Deloitte China Sitao Xu menilai Moskow tengah mencari jaminan kepastian dari Beijing terkait hubungan bilateral mereka yang terbilang rumit, terutama setelah muncul rumor klaim sepihak mengenai konflik Ukraina. Di sisi lain, pihak Beijing diproyeksikan akan memanfaatkan momentum ini untuk meminta kejelasan mengenai arah akhir dari perang Rusia-Ukraina demi menjaga stabilitas keamanan di wilayah perbatasan mereka.
"Rusia adalah tetangga terbesar China, dan kami memiliki perbatasan yang panjang ini, jadi jika kita tidak perlu khawatir tentang keamanan di sepanjang sisi Barat, itu akan menjadi keaktifan yang sangat besar bagi kita," ujar Xu pada Senin.
Hubungan Energi
Baca Juga:
Putin Kalah Telak di Mali Utara, Tentara Bayaran Rusia Dipukul Mundur
Sektor energi menjadi sorotan utama karena hubungan antara kedua negara kini dinilai para pengamat menjadi semakin asimetris dan timpang sejak perang Ukraina meletus. Akibat sanksi internasional yang bertubi-tubi, Rusia kehilangan pasar ekspor minyak dan gas utamanya di Eropa, sehingga kini mereka menjadi sangat bergantung pada India dan China sebagai pembeli utama energi mereka.
Target utama yang ingin dicapai oleh Putin dalam kunjungannya pekan ini adalah mendapatkan lampu hijau bagi megaproyek pipa gas Power of Siberia 2 yang melintasi Mongolia. Infrastruktur strategis ini digadang-gadang mampu melipatgandakan volume ekspor gas pipa Rusia ke China, meskipun Beijing sendiri dilaporkan tidak terlalu terburu-buru untuk menyetujuinya.
"Kesepakatan utama yang ingin dibahas Putin dengan Xi adalah, tentu saja, pipa gas," tutur Sergei Guriev, dekan London Business School kepada CNBC pada Selasa.