Guriev menambahkan bahwa China terus menunda pembahasan proyek ini karena mereka merasa telah memiliki ketahanan energi yang kuat melalui diversifikasi pasokan yang mumpuni. Di sisi lain, Rusia dinilai berada dalam posisi yang jauh lebih membutuhkan kesepakatan pipa gas ini secepatnya.
"China telah membangun cadangan energi yang substansial dan dapat menunggu hingga konflik Timur Tengah selesai," pungkas Guriev.
Baca Juga:
Perang Rusia dan Ukraina Kembali Memanas, Putin Tembakkan 200 Lebih Drone
Hubungan Perdagangan
Putin memandang bahwa komunikasi intensif tingkat tinggi merupakan bagian integral dalam membuka potensi kerja sama ekonomi kedua negara yang dianggapnya tanpa batas. Berdasarkan laporan kantor berita Rusia, TASS, Moskow berniat memperluas kemitraan dagang mereka ke berbagai lini komoditas lainnya di luar sektor energi.
"Kunjungan timbal balik yang teratur dan pembicaraan tingkat tinggi Rusia-China adalah bagian penting dan integral dari upaya bersama kami untuk mempromosikan seluruh rentang hubungan antara kedua negara kita dan membuka potensi mereka yang benar-benar tanpa batas," kata Putin seperti dikutip dari laporan TASS pada Selasa.
Baca Juga:
Putin Kalah Telak di Mali Utara, Tentara Bayaran Rusia Dipukul Mundur
Ketergantungan ekonomi Rusia terhadap industri manufaktur Negeri Tirai Bambu tercatat melonjak drastis pasca-terputusnya hubungan dagang dengan Uni Eropa. Berkat pengalihan arus perdagangan global tersebut, nilai total transaksi perdagangan antara Rusia dan China dilaporkan sukses tumbuh hingga dua kali lipat dalam empat tahun terakhir.
"Bagi Rusia, kunjungan ini sangat penting karena Rusia bergantung pada China dalam hal teknologi, barang konsumsi, dan barang manufaktur," tegas Guriev saat berbicara di acara "Europe Early Edition" di CNBC.
[Redaktur: Alpredo Gultom]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.