WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pernyataan tajam kembali datang dari Moskow ketika Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mempertanyakan penggunaan istilah Britania Raya saat Inggris disinggung dalam konteks kolonialisme Greenland.
Lavrov menilai Inggris tidak pantas lagi disebut Great Britain karena menjadi satu-satunya negara di dunia yang secara resmi menyematkan kata “Great” atau “Raya” pada nama negaranya.
Baca Juga:
Militer Rusia Klaim Tembak Jatuh Jet Tempur F-16 AS
“Saya pikir Inggris seharusnya disebut Britania saja karena ‘Britania Raya’ adalah satu-satunya contoh negara yang menyebut dirinya ‘Besar’,” kata Lavrov kepada wartawan pada Selasa (20/1/2025).
Ia menjelaskan bahwa istilah great dalam konteks negara kerap diterjemahkan sebagai raya, yang berarti besar atau agung.
Meski demikian, Lavrov menegaskan bahwa pernyataannya itu tidak dimaksudkan untuk menyinggung Inggris.
Baca Juga:
Drone Rusia Hantam Kedutaan Qatar di Ukraina
“Pernyataan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menyinggung siapa pun,” ujar Lavrov.
Dalam penjelasannya, Lavrov lalu mengangkat contoh lain dari negara yang pernah menggunakan istilah “Great” dalam nama resminya.
“Tetapi negara itu sudah tidak ada lagi,” ucap Lavrov, merujuk pada Republik Sosialis Rakyat Libya Arab Raya yang dahulu dipimpin Muammar Gaddafi.
Dalam bahasa Rusia, Kerajaan Inggris Raya dan Irlandia Utara biasanya disebut Velikobritaniya, yang secara harfiah berarti Britania Raya.
Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan Rusia dan Inggris terus memanas, terutama setelah Presiden Vladimir Putin melancarkan invasi ke Ukraina.
Inggris menjadi salah satu negara Barat yang paling keras mengkritik Rusia sekaligus aktif memasok senjata ke Ukraina.
Pemerintah Inggris juga secara terbuka menyebut Rusia sebagai ancaman bagi keamanan Eropa.
Moskow menuding negara-negara Barat bertanggung jawab atas eskalasi konflik karena terus mendorong Ukraina untuk bergabung dengan NATO.
Pemerintah Rusia meyakini keanggotaan Ukraina di aliansi militer tersebut akan secara langsung mengancam keamanan nasionalnya.
Sementara itu, media pemerintah Rusia kerap menggambarkan Inggris sebagai negara yang penuh tipu daya dan berupaya melemahkan Negeri Beruang Merah.
Rusia dan negara-negara Barat juga saling menuduh melakukan kampanye spionase dengan intensitas yang disebut-sebut belum pernah terjadi sejak era Perang Dingin.
[Redaktur: Angelita Lumban Gaol]